Surabaya (beritajatim.id) – Donor darah selama ini dikenal sebagai aksi kemanusiaan untuk membantu pasien yang membutuhkan. Namun di balik itu, aktivitas ini juga memiliki manfaat kesehatan yang kerap luput dari perhatian, yakni membantu mendeteksi dini tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Organisasi kemanusiaan American Red Cross menekankan bahwa kondisi kesehatan pendonor merupakan bagian penting dari proses donor. Setiap kali seseorang mendonorkan darah, sejumlah parameter vital seperti kadar hemoglobin, denyut nadi, dan tekanan darah akan dicatat dalam sistem yang aman. Data ini memungkinkan pendonor memantau kondisi kesehatannya dari waktu ke waktu.
Hipertensi sendiri merupakan kondisi umum yang sering tidak disadari penderitanya. Tekanan darah tinggi terjadi ketika aliran darah dalam arteri berada pada tekanan yang lebih tinggi dari normal. Kondisi ini memaksa jantung bekerja lebih keras, yang dalam jangka panjang dapat merusak organ vital seperti jantung dan ginjal, serta meningkatkan risiko gagal jantung, serangan jantung, hingga stroke.
Yang menjadi perhatian, hipertensi kerap dijuluki sebagai “silent killer” karena hampir tidak menimbulkan gejala. Seseorang bisa hidup bertahun-tahun tanpa menyadari tekanan darahnya sudah berada pada level berbahaya. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui kondisi ini.
Data dari American Red Cross menunjukkan bahwa sekitar 20 persen pendonor darah, trombosit, dan plasma menunjukkan tanda-tanda kemungkinan hipertensi. Angka ini mencerminkan bahwa masih banyak kasus tekanan darah tinggi yang belum terdiagnosis dan tertangani dengan baik.
Hipertensi biasanya berkembang seiring waktu dan lebih sering terjadi pada usia yang lebih tua. Sejumlah faktor risiko turut berkontribusi, seperti kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, hingga riwayat keluarga. Selain itu, kondisi seperti obesitas dan diabetes juga meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami hipertensi.
Meski demikian, sebagian besar orang dengan tekanan darah tinggi tetap dapat mendonorkan darah, termasuk mereka yang mengonsumsi obat antihipertensi. Hanya individu dengan tekanan darah di atas 180/100 mmHg pada hari donor yang tidak diperbolehkan, karena kondisi tersebut memerlukan penanganan medis segera.
Melalui data yang dikumpulkan saat donor, pendonor dapat melihat tren tekanan darah mereka dari waktu ke waktu. Informasi ini sangat berguna saat dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat, baik melalui perubahan pola makan, gaya hidup, maupun pengobatan.
Para ahli menekankan pentingnya mengetahui angka tekanan darah secara rutin. Diagnosis hipertensi biasanya tidak hanya berdasarkan satu kali pengukuran, melainkan memerlukan beberapa kali pemeriksaan dalam periode tertentu. Data dari kegiatan donor darah bisa menjadi pelengkap penting dalam proses tersebut.
Sejak 2017, pedoman dari asosiasi kardiologi di Amerika Serikat menetapkan bahwa tekanan darah tinggi dimulai pada angka 130/80 mmHg atau lebih. Standar ini menunjukkan bahwa batasan hipertensi kini lebih rendah dibandingkan sebelumnya, sehingga deteksi dini menjadi semakin krusial.
Dengan demikian, donor darah tidak hanya menjadi bentuk kontribusi sosial, tetapi juga sarana pemantauan kesehatan pribadi. Kesadaran akan manfaat ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk rutin mendonorkan darah sekaligus lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya sendiri. (hdl)


as a preferred source on Google




