Lampung Timur (beritajatim.id) – Kementerian Kehutanan memperkuat langkah mitigasi konflik antara manusia dan Gajah Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur. Upaya tersebut ditegaskan melalui kunjungan kerja Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki pada Kamis (2/7/2026) untuk memastikan program penanganan interaksi negatif manusia dan satwa liar berjalan efektif, terukur, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi.
Kunjungan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya intensitas interaksi antara warga dan Gajah Sumatera yang hidup di kawasan penyangga taman nasional. Kondisi itu tidak hanya berdampak pada keselamatan masyarakat dan aktivitas ekonomi warga, tetapi juga mengancam kelestarian salah satu satwa endemik Indonesia yang berstatus dilindungi.
Dalam agenda tersebut, Rohmat Marzuki memimpin pengarahan yang dihadiri unsur Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, TNI, Polri, Kejaksaan Tinggi Lampung, Institut Teknologi Sumatera (ITERA), jajaran Kementerian Kehutanan, Komite Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera, serta sejumlah mitra konservasi.
Wakil Menteri menjelaskan bahwa Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu habitat terpenting bagi Gajah Sumatera di Indonesia. Kawasan konservasi seluas sekitar 125.631 hektare tersebut menjadi rumah bagi sekitar 146 hingga 170 individu Gajah Sumatera yang keberadaannya harus dijaga secara berkelanjutan.
Namun demikian, meningkatnya interaksi antara manusia dan gajah menjadi tantangan serius. Dari total 38 desa penyangga kawasan, sebanyak 17 desa tercatat mengalami interaksi langsung dengan gajah liar. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan tren kejadian terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, yakni 114 kasus pada 2023, naik menjadi 128 kasus pada 2024, dan kembali meningkat menjadi 140 kasus pada 2025.
Menurut Rohmat Marzuki, penanganan konflik manusia dan gajah tidak hanya berkaitan dengan upaya konservasi satwa, tetapi juga menyangkut aspek keselamatan masyarakat, keamanan wilayah, serta keberlanjutan kehidupan warga yang menggantungkan mata pencaharian di sekitar kawasan hutan.
Ia menyampaikan bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai penguatan mitigasi konflik manusia dan Gajah Sumatera menjadi dasar pelaksanaan berbagai program di Way Kambas. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur pendukung, tetapi juga penguatan sistem mitigasi yang lebih permanen, peningkatan perlindungan masyarakat, serta pelestarian habitat alami gajah.
Program tersebut juga menjadi bagian dari komitmen Kementerian Kehutanan dalam mendukung target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, khususnya melalui penguatan perlindungan kawasan hutan dan pelestarian keanekaragaman hayati.
Rohmat menegaskan bahwa setiap penyesuaian program harus tetap mengacu pada kebutuhan di lapangan dan berorientasi pada tujuan utama, yakni menekan angka interaksi negatif antara manusia dan gajah. Keberhasilan program, menurutnya, harus diukur dari dampak nyata, seperti menurunnya jumlah konflik, meningkatnya rasa aman masyarakat, semakin terlindunginya populasi Gajah Sumatera, serta semakin kuatnya tata kelola kawasan konservasi.
Selain menggelar rapat koordinasi, Wakil Menteri bersama rombongan meninjau sejumlah lokasi strategis di kawasan TN Way Kambas. Kegiatan meliputi kunjungan ke Resort Margahayu, penanaman sereh merah sebagai bagian dari upaya mitigasi, peletakan batu pertama pembangunan view deck di Pusat Latihan Gajah Way Kambas, peninjauan pembangunan embung, interaksi dengan gajah binaan, hingga meninjau pembangunan gerbang utama taman nasional dan pagar pipa baja yang menjadi bagian dari sistem pengamanan kawasan.
Melalui kunjungan tersebut, Kementerian Kehutanan mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, akademisi, dan mitra konservasi dalam membangun sistem mitigasi konflik manusia dan satwa liar yang berbasis data, teknologi, serta partisipasi masyarakat.
Langkah tersebut diharapkan mampu menghadirkan keseimbangan antara perlindungan Gajah Sumatera sebagai satwa kunci di Pulau Sumatra dengan peningkatan rasa aman dan kesejahteraan masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi. Dengan demikian, pengelolaan Taman Nasional Way Kambas dapat berlangsung secara berkelanjutan sekaligus mendukung target konservasi nasional. (hdl)


as a preferred source on Google




