Malang (beritajatim.id) – Transporter bukan sekadar film laga biasa—ia menjadi tonggak penting dalam karier Jason Statham dan menjelma sebagai waralaba ikonik yang menggabungkan aksi memukau, kejar-kejaran mobil berkecepatan tinggi, serta narasi serba cepat khas era 2000-an.
Dirilis pertama kali pada tahun 2002, The Transporter sukses menarik perhatian berkat gaya visual yang stylish dan performa karismatik Statham sebagai Frank Martin, seorang mantan tentara bayaran yang kini hidup sebagai kurir “berisiko tinggi”.
Film ini diproduksi oleh sineas kenamaan Prancis Luc Besson, yang sebelumnya sukses dengan film seperti Léon: The Professional dan The Fifth Element. Naskahnya ditulis oleh Besson bersama Robert Mark Kamen, dengan penyutradaraan dipercayakan kepada Louis Leterrier (yang kelak menyutradarai The Incredible Hulk dan Now You See Me) serta Corey Yuen, seorang koreografer laga kawakan asal Hong Kong.
Kesuksesan Transporter di box office internasional membuka jalan bagi Jason Statham untuk dikenal sebagai aktor spesialis film laga. Ia dipuji karena mampu menyuguhkan aksi nyata tanpa banyak mengandalkan stuntman.
Serta karakter Frank Martin yang kalem, profesional, dan penuh kode etik menjadi ciri khas baru dalam genre aksi modern. Transporter menjadi film yang secara tidak langsung mempopulerkan kembali subgenre “lone operative action hero”, mirip dengan James Bond, namun dalam versi jalanan dan lebih “membumi”.
Setelah film pertamanya menuai sukses, waralaba ini pun berkembang menjadi tiga film utama dengan Statham, serta satu reboot. Berikut daftar dan narasi singkatnya:
The Transporter (2002)
Frank Martin menerima pekerjaan mengantar sebuah paket rahasia di French Riviera. Segalanya berubah saat ia mengetahui bahwa “paket” tersebut adalah seorang perempuan yang diculik. Film ini menjadi pondasi dari semua nilai dan kode etik yang dipegang tokoh Frank Martin.
Transporter 2 (2005)
Kali ini, Frank bekerja sebagai sopir pribadi untuk keluarga diplomat di Miami. Ketika anak dari keluarga tersebut diculik, Frank berjuang melawan sindikat narkoba dalam misi penyelamatan. Film ini menawarkan aksi lebih eksplosif dan koreografi laga yang lebih spektakuler.
Transporter 3 (2008)
Frank dipaksa mengantar seorang perempuan misterius lintas negara dengan perangkat ledakan yang terpasang di tubuhnya. Film ini menggabungkan drama, aksi, dan ketegangan psikologis yang membuat waralaba ini semakin matang.
The Transporter Refueled (2015)
Merupakan reboot tanpa Jason Statham, film ini dibintangi Ed Skrein sebagai Frank Martin versi baru. Sayangnya, film ini tidak mendapat sambutan sebaik trilogi original, dan banyak penggemar menyayangkan absennya Statham sebagai ikon utama.
Tak hanya berhenti di layar lebar, waralaba Transporter juga sempat diadaptasi menjadi serial televisi Transporter: The Series pada tahun 2012, yang tayang selama dua musim dan diperankan oleh Chris Vance sebagai Frank Martin. Meskipun tidak setenar versi filmnya, serial ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik karakter dan konsep yang dihadirkan.
Kini, Transporter dikenang sebagai salah satu waralaba film laga paling berpengaruh di awal 2000-an dan menjadi gerbang masuk Jason Statham ke jajaran bintang besar Hollywood. Setelahnya, ia membintangi deretan film aksi ternama seperti Crank, The Expendables, Fast & Furious series, hingga Meg. Namun, banyak penggemar yang tetap menyebut Transporter sebagai peran paling ikonik dan otentik dari Statham.
Waralaba Transporter bukan hanya tentang ledakan dan kejar-kejaran, tapi juga tentang membangun karakter antihero yang punya prinsip dan profesionalisme tinggi. Dengan campuran aksi Eropa dan gaya Hollywood, film ini tetap relevan di tengah dominasi film aksi CGI masa kini. (mnd)


as a preferred source on Google



