Malang (beritajatim.id) – Universitas Mataram (Unram) melakukan studi banding pengelolaan layanan disabilitas ke Universitas Brawijaya (UB) sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pendidikan tinggi yang inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas. Kegiatan benchmarking tersebut berlangsung di Gedung Rektorat Universitas Brawijaya, Senin (15/6/2026), dengan fokus mempelajari tata kelola dan praktik terbaik yang telah diterapkan Pusat Layanan Disabilitas (PLD) UB.
Kunjungan tersebut menjadi langkah strategis Universitas Mataram dalam mempersiapkan ekosistem kampus yang lebih inklusif seiring meningkatnya minat lulusan sekolah luar biasa dan sekolah disabilitas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Dalam pemaparannya, Ketua Pusat Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya, Zubaidah Ningsih AS., Ph.D menjelaskan bahwa sistem layanan disabilitas di UB dibangun berdasarkan pendekatan model sosial dan Hak Asasi Manusia (HAM). Pendekatan tersebut menempatkan lingkungan, kebijakan, dan budaya kampus sebagai faktor utama yang harus menyesuaikan diri agar seluruh mahasiswa memperoleh kesempatan yang setara dalam mengakses pendidikan.
Menurut Zubaidah, konsep pendidikan inklusif berbeda dengan sistem pendidikan segregatif yang memisahkan peserta didik berdasarkan kondisi tertentu. Pendidikan inklusif menitikberatkan pada pembangunan lingkungan yang mampu menerima keberagaman serta memberikan ruang yang setara bagi mahasiswa disabilitas untuk berkembang.
Ia menjelaskan bahwa penerapan pendidikan inklusif diwujudkan melalui dua aspek utama, yakni aksesibilitas dan akomodasi yang layak. Aksesibilitas berfokus pada pembangunan sistem yang dapat digunakan oleh seluruh individu tanpa hambatan, sedangkan akomodasi merupakan penyesuaian tambahan yang diberikan untuk memastikan mahasiswa dengan kebutuhan khusus dapat mengikuti proses pendidikan secara optimal.
Dalam praktiknya, konsep aksesibilitas diwujudkan melalui penyediaan fasilitas fisik maupun digital yang ramah disabilitas, seperti jalur landai atau ramp, lift yang mudah diakses, situs web yang inklusif, serta penerapan Universal Design for Learning (UDL). Sementara itu, akomodasi yang layak dapat berupa penyediaan juru bahasa isyarat, penyesuaian metode pembelajaran, hingga tambahan waktu dalam pelaksanaan ujian.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Mataram, Prof. Dr. Sitti Hilyana, mengungkapkan bahwa pihaknya secara khusus ingin mempelajari strategi pendampingan mahasiswa disabilitas yang telah berjalan di Universitas Brawijaya. Menurutnya, kebutuhan akan layanan pendidikan inklusif di Nusa Tenggara Barat terus meningkat.
Ia menyebut terdapat sedikitnya 53 sekolah disabilitas di Nusa Tenggara Barat yang berpotensi melahirkan lulusan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Universitas Mataram untuk menyediakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Saat ini Universitas Mataram telah memiliki lima mahasiswa disabilitas dan jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah pada tahun-tahun mendatang. Karena itu, penguatan layanan dan dukungan akademik menjadi kebutuhan yang mendesak agar mahasiswa disabilitas dapat memperoleh pengalaman belajar yang setara dengan mahasiswa lainnya.
Prof. Sitti Hilyana menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membuka peluang karier yang lebih luas bagi penyandang disabilitas. Selama ini, sebagian masyarakat masih memandang pilihan profesi penyandang disabilitas secara terbatas. Melalui pendidikan tinggi, paradigma tersebut diharapkan berubah sehingga semakin banyak penyandang disabilitas yang mampu berkiprah di berbagai bidang profesional.
Universitas Mataram menargetkan lahirnya lulusan disabilitas yang mampu bersaing di berbagai sektor pekerjaan, mulai dari bidang hukum, pendidikan, pemerintahan, teknologi, hingga profesi-profesi strategis lainnya. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan kesetaraan kesempatan dalam dunia pendidikan dan dunia kerja.
Studi banding ke Universitas Brawijaya tersebut diharapkan menjadi pijakan penting bagi Universitas Mataram dalam membangun sistem layanan disabilitas yang lebih komprehensif. Dengan dukungan fasilitas yang memadai, kebijakan yang inklusif, serta lingkungan kampus yang terbuka terhadap keberagaman, perguruan tinggi dapat menjadi ruang yang memberikan kesempatan setara bagi seluruh mahasiswa untuk meraih prestasi dan masa depan yang lebih baik. (hdl)


as a preferred source on Google




