Surabaya (beritajatim.id) – James Harden kini resmi menembus daftar 10 besar pencetak poin terbanyak sepanjang masa NBA. Pencapaian ini terasa luar biasa mengingat perjalanan kariernya yang penuh kejutan, mulai dari menjadi pemain cadangan hingga berkembang menjadi salah satu scorer paling berbahaya di generasinya.
Padahal, tak banyak yang memprediksi Harden bakal sejajar dengan legenda seperti Michael Jordan, Kobe Bryant, dan LeBron James. Beberapa faktor yang membuatnya semula diragukan untuk mencapai level ini antara lain masa awal karier sebagai pemain bench, gaya main yang tidak mengandalkan atletisme, serta asumsi bahwa tubuhnya tidak akan bertahan selama hampir dua dekade kompetisi.
Namun, asumsi itu terbantahkan. Harden berhasil mencatatkan nama di jajaran legenda berkat kreativitas serangannya. Kemampuannya menciptakan ruang, melepas tembakan tiga angka, menyusup ke paint area, hingga memancing kontak untuk mendapatkan foul menjadikannya simbol efisiensi permainan modern.
Harden tiga kali memimpin NBA dalam perolehan poin, semuanya berturut-turut saat ia mencetak rata-rata lebih dari 30 poin per musim. Ia juga menjadi pemain dengan tripoin terbanyak kedua dalam sejarah NBA setelah Stephen Curry. Gaya bermainnya sangat relevan dengan era basket modern yang mengutamakan spacing, isolasi, dan efektivitas tembakan jarak jauh.
Puncak performanya terjadi pada musim 2017–2020 bersama Houston Rockets. Saat itu, ia berada dalam sistem ofensif Mike D’Antoni yang memberinya kebebasan penuh. Harden menjadi pusat permainan, menguasai bola hampir setiap possession, dan memaksimalkan keahliannya dalam membaca pertahanan lawan. Keputusannya untuk pindah dari Oklahoma City Thunder ke Rockets pada 2012 pun menjadi titik balik utama dalam kariernya.
Di OKC, Harden hanya berperan sebagai sixth man di belakang Kevin Durant dan Russell Westbrook. Selama tiga musim awalnya, ia hanya mencetak 2.795 poin — angka yang bahkan pernah ia lampaui dalam satu musim saja saat berada di Houston.
Dengan tinggi 6’5 dan tubuh yang tidak terlalu mengandalkan kemampuan terbang, Harden harus mengembangkan senjatanya sendiri. Tiga jurus andalannya kemudian menjadi ikon, step-back 3 yang kini dipakai hampir seluruh pemain muda NBA, crossover yang membuat banyak defender kehilangan keseimbangan dan tripoin volume tinggi yang mengubah standar permainan perimeter.
Gerakan step-back menjadi yang paling identik dengannya. Move tersebut memberinya ruang tembak optimal dan menempatkan Harden sebagai salah satu inovator dalam perkembangan gaya bermain NBA modern.
Memasuki usia pertengahan 30-an, Harden masih menunjukkan produktivitas tinggi. Ia kini bermain untuk tim kelimanya dan tetap menjaga angka rataan poin di kisaran 27 per gim. Ketidaktergantungan pada atletisme membuat gaya mainnya lebih awet dibanding banyak bintang lain.
Pelatih Clippers, Ty Lue, bahkan menilai rutinitas latihan Harden yang konsisten sejak debutnya menjadi kunci utama ketahanannya. Dedikasi itu membuat Harden tetap kompetitif di era yang makin cepat dan fisikal.
Saat ini Harden hanya terpaut sedikit dari catatan poin Shaquille O’Neal di posisi sembilan. Dengan rata-rata lebih dari 1.400 poin per musim dalam tiga tahun terakhir, Harden berpotensi menyalip Wilt Chamberlain dan bahkan Dirk Nowitzki dalam beberapa musim ke depan, jika ia bertahan di level yang sama.
Dari remaja yang tumbuh menyaksikan aksi Kobe Bryant hingga menjadi pemain yang menembus daftar 10 besar pencetak poin terbanyak NBA, perjalanan Harden merupakan cerita ketekunan dan evolusi. Dengan kemampuannya mencetak angka dari berbagai situasi dan keinginannya untuk terus bermain, Harden masih memiliki peluang memperkuat posisinya di antara legenda-legenda basket dunia. (aga)


as a preferred source on Google




