Surabaya (beritajatim.id) – Menyiapkan ide bekal anak untuk sekolah sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Meski menu favorit sudah disiapkan dan tampilannya dibuat menarik, tidak sedikit anak yang tetap membawa pulang bekalnya dalam kondisi masih tersisa.
Menurut Certified Positive Discipline Parent Educator Damar Wijayanti, keberhasilan bekal anak bukan hanya ditentukan oleh jenis makanan yang dibawa, tetapi juga bagaimana anak dilibatkan dalam proses menyiapkannya. Keterlibatan sederhana tersebut dapat meningkatkan antusiasme anak sekaligus mengurangi perilaku rewel di pagi hari.
Melibatkan Anak Saat Menyiapkan Bekal
Damar menjelaskan, banyak orang tua tanpa sadar terlalu fokus menyiapkan bekal hingga mengabaikan kebutuhan anak untuk mendapatkan perhatian. Kondisi ini memicu perilaku yang dikenal sebagai undue attention, yaitu saat anak berusaha mencari perhatian karena merasa diabaikan.
Alih-alih memarahi anak yang mulai rewel, Damar menyarankan orang tua mengajak mereka ikut membantu menyiapkan bekal. Aktivitas sederhana seperti memasukkan jagung ke wadah makan, menuangkan saus atau susu, hingga menata makanan di kotak bekal sudah cukup membuat anak merasa memiliki peran.
Dengan cara tersebut, anak merasa diperhatikan sehingga tidak lagi perlu mencari perhatian melalui perilaku negatif. Selain itu, keterlibatan dalam proses memasak juga membuat anak lebih antusias menyantap makanan yang telah mereka bantu siapkan.
Persiapkan Bekal Sejak Malam Hari
Agar pagi hari tidak terasa terburu-buru, Damar menyarankan orang tua mulai mempersiapkan menu yang memungkinkan sejak malam sebelumnya.
Sementara makanan yang harus disajikan dalam kondisi segar tetap dapat disiapkan pada pagi hari. Cara ini membantu orang tua lebih tenang sekaligus menjaga kualitas makanan yang dibawa anak ke sekolah.
Bekal Anak Menjadi Simbol Perhatian Orang Tua
Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan gizi, bekal sekolah juga memiliki makna emosional bagi anak.
Dalam konsep Positive Discipline, bekal menjadi bentuk nyata dari prinsip belonging and significance, yakni kebutuhan anak untuk merasa dicintai, diterima, dan dianggap penting oleh keluarganya.
Menurut Damar, banyak ibu yang mengekspresikan kasih sayangnya melalui makanan yang disiapkan setiap pagi. Bekal menjadi cara sederhana untuk menunjukkan bahwa orang tua tetap memikirkan anak meski tidak berada di sampingnya selama beraktivitas di sekolah.
Karena itu, bekal bukan hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga menjadi bentuk dukungan emosional yang dapat meningkatkan rasa percaya diri anak.
Bekal Tidak Habis? Cari Tahu Penyebabnya Terlebih Dahulu
Ketika bekal anak pulang dalam kondisi masih banyak tersisa, orang tua sebaiknya tidak langsung menyalahkan atau memarahi anak.
Damar menekankan pentingnya menerapkan prinsip connection before correction, yaitu membangun komunikasi lebih dulu sebelum memberikan koreksi.
Melalui komunikasi yang hangat, orang tua dapat mengetahui penyebab sebenarnya. Dalam pengalamannya, Damar pernah mendapati bekal anaknya sering tidak habis bukan karena makanannya tidak enak, melainkan waktu istirahat di sekolah terlalu singkat.
Setelah mengetahui penyebabnya, ia kemudian mengubah jenis bekal menjadi makanan yang lebih praktis disantap, porsinya lebih kecil tetapi tetap tinggi kalori sehingga kebutuhan energi anak tetap terpenuhi.
Ide Bekal Anak Terbaik Adalah yang Sesuai Selera Si Kecil
Damar menegaskan bahwa bekal terbaik bukanlah yang paling mahal atau paling rumit dibuat.
Orang tua cukup memahami kebiasaan makan, tekstur makanan favorit, serta menu yang sedang disukai anak. Sentuhan sederhana seperti menambahkan saus cocolan, membuat tekstur makanan lebih lembut, atau menyajikan menu favorit dapat membuat bekal terasa lebih menarik bagi anak.
Dengan mengenali kebutuhan masing-masing anak, bekal sederhana pun dapat menjadi makanan yang paling dinantikan setiap hari sekaligus membantu membangun kebiasaan makan sehat sejak dini.
Tips Agar Bekal Anak Lebih Disukai
- Libatkan anak saat menyiapkan bekal.
- Siapkan sebagian menu sejak malam hari.
- Sesuaikan menu dengan selera dan kebiasaan makan anak.
- Gunakan porsi yang realistis sesuai waktu makan di sekolah.
- Bangun komunikasi jika bekal sering tidak habis, jangan langsung memarahi anak.
- Variasikan menu agar anak tidak mudah bosan.
Melalui pendekatan yang lebih hangat dan partisipatif, menyiapkan bekal sekolah tidak hanya menjadi rutinitas harian, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan orang tua dan anak sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka secara fisik maupun emosional. (aga)


as a preferred source on Google




