Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»Lifestyle»Jangan Dianggap Sepele, Toxic Relationship Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik

Jangan Dianggap Sepele, Toxic Relationship Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik

Agathon AgnarAgathon Agnar Lifestyle 17 Juli 2026
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Surabaya (beritajatim.id) – Toxic relationship selama ini lebih banyak dikaitkan dengan dampak terhadap kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, hingga depresi. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang tidak sehat juga dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang, mulai dari melemahnya sistem kekebalan tubuh hingga meningkatnya risiko penyakit autoimun.

Laporan The Independent yang terbit pada 6 Juli 2026 mengungkap bahwa tubuh manusia secara alami akan mengutamakan mekanisme bertahan hidup ketika menghadapi tekanan. Respons tersebut tidak hanya dipicu oleh ancaman fisik, tetapi juga oleh stres emosional yang berlangsung dalam waktu lama.

Ketika seseorang terus berada dalam hubungan yang penuh konflik, manipulasi, atau tekanan psikologis, tubuh akan mempertahankan kondisi fight or flight atau “lawan atau lari”. Respons ini membuat hormon stres, terutama kortisol, terus diproduksi dalam kadar tinggi sehingga memengaruhi berbagai sistem di dalam tubuh.

Stres Kronis Dapat Mengganggu Sistem Imun

Menurut laporan MedReport Foundation yang dikutip The Independent, paparan stres kronis akibat hubungan yang toksik dapat membuat tubuh berada dalam kondisi siaga secara terus-menerus.

Akibatnya, kadar kortisol yang tinggi dalam jangka panjang dapat menurunkan fungsi sistem kekebalan tubuh, meningkatkan peradangan, mengganggu keseimbangan hormon, hingga memengaruhi kesehatan saluran pencernaan, termasuk memicu kondisi yang dikenal sebagai leaky gut atau usus bocor.

Bagi sebagian orang yang memiliki faktor risiko tertentu, kondisi tersebut juga berpotensi memicu kambuhnya penyakit autoimun.

Baca Juga:  Guru Besar UNAIR Patenkan Pelat Dada Modifikasi, Solusi Terjangkau untuk Pasien Dada Cekung

Risiko Penyakit Autoimun Meningkat

Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara stres berat yang berlangsung lama dengan meningkatnya risiko penyakit autoimun.

Orang yang mengalami trauma atau tekanan emosional berkepanjangan dilaporkan memiliki peluang sekitar 36 persen lebih tinggi mengalami gangguan autoimun, seperti:

  • Rheumatoid arthritis
  • Lupus
  • Psoriasis
  • Hashimoto’s disease
  • Crohn’s disease

Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penyakit autoimun tidak hanya dipengaruhi oleh stres. Faktor genetik, lingkungan, pola hidup, dan kondisi kesehatan lain juga berperan dalam perkembangan penyakit tersebut.

Kualitas Hubungan Berpengaruh terhadap Kesehatan

Selain risiko autoimun, kualitas hubungan interpersonal juga disebut memiliki kaitan dengan kesehatan secara keseluruhan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2010 menunjukkan bahwa individu yang menjalani hubungan tidak sehat memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki hubungan sosial yang baik. Temuan tersebut menggambarkan bahwa tekanan emosional jangka panjang dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan, meski hubungan sebab-akibatnya masih terus diteliti.

Dalam laporan The Independent, pengalaman Becca Scott menjadi salah satu contoh bagaimana stres berkepanjangan diduga memperburuk kondisi Crohn’s disease dan Hashimoto’s disease yang telah dideritanya sejak kecil. Menurut laporan tersebut, konflik dalam hubungan personal menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi kesehatannya.

Stres Berkepanjangan Dapat Memperlambat Proses Pemulihan

Wallace-Scott, yang dikutip dalam laporan The Independent, menjelaskan bahwa stres lingkungan yang terus berlangsung dapat menjadi faktor yang mempertahankan berbagai gangguan kesehatan.

Baca Juga:  Tren Hampers Lebaran Mulai Beralih ke Konsep Ramah Lingkungan

Saat seseorang terus hidup dalam tekanan emosional, tubuh akan lebih sulit memasuki fase pemulihan. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang merasa cepat lelah, mengalami peradangan berkepanjangan, hingga merasa semakin bergantung pada lingkungan yang sebenarnya menjadi sumber stres.

Karena itu, menurut Wallace-Scott, upaya memperbaiki kondisi kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan medis, tetapi juga perlu mempertimbangkan faktor lingkungan, termasuk kualitas hubungan interpersonal yang dijalani seseorang.

Menjaga Hubungan Sehat Menjadi Bagian dari Gaya Hidup

Para peneliti menilai masih diperlukan studi lebih lanjut untuk memahami secara mendalam hubungan antara toxic relationship dan berbagai penyakit fisik.

Meski demikian, semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik saling berkaitan erat. Mengelola stres, membangun hubungan yang sehat, menerapkan pola hidup seimbang, serta mencari bantuan profesional ketika mengalami tekanan emosional berkepanjangan dapat menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Hubungan yang sehat bukan hanya memberikan rasa aman secara emosional, tetapi juga berkontribusi terhadap kualitas hidup dan kesehatan fisik dalam jangka panjang. Dengan mengenali tanda-tanda toxic relationship sejak dini, seseorang memiliki peluang lebih besar untuk melindungi kesejahteraan mental maupun kondisi tubuhnya. (aga)

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
dampak toxic relationship kesehatan fisik toxic relationship
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026 Lifestyle
Ilustrasi penderita flu (foto : xframe)

Kemarau Basah Juli 2026: Kasus Flu dan Batuk Meningkat, Ini Penyebab serta Cara Mencegahnya

7 Juli 2026 Lifestyle

Gen Z Ramai Pilih Intimate Wedding, Lebih Personal dan Jadi Investasi untuk Kehidupan Setelah Menikah

7 Juli 2026 Lifestyle

5 Cara Mengatasi Sulit Tidur Setelah Terbangun Tengah Malam, Jangan Langsung Lihat Jam!

3 Juli 2026 Lifestyle

9 Manfaat Mewarnai bagi Anak yang Jarang Disadari, Tak Sekadar Asah Kreativitas tetapi Dukung Tumbuh Kembang

2 Juli 2026 Lifestyle

Nicholas Saputra Jadi Brand Ambassador Herbal Kemasan, Undang Perhatian Publik

26 Juni 2026 Lifestyle
Leave A Reply Cancel Reply

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026
Berita Terbaru
Lionel Messi

Messi Antar Argentina Singkirkan Inggris dan Melaju ke Final Piala Dunia, Siap Tantang Spanyol

16 Juli 2026
Polri dan Kepolisian RRT melakukan pertukaran buronan. Tiga WN China dipulangkan, sementara satu buron WNI diserahkan kepada Polri.

Polri dan Kepolisian RRT Tukar Buronan, Tiga WN China Dipulangkan dan Satu WNI Diserahkan ke Indonesia

15 Juli 2026
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Trump Kembali Blokade Pelabuhan Iran dan Ancam Serang Infrastruktur, Ketegangan AS-Iran Kian Memanas

15 Juli 2026
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi

Eri Cahyadi Benahi Layanan RSUD Soewandhie, Evaluasi Antrean Online, Farmasi hingga Kapasitas IGD

15 Juli 2026
Polres Pelabuhan Tanjungperak menangkap kurir sabu yang memakai aplikasi Zangi untuk berkomunikasi dengan bandar. Polisi menyita 12 paket sabu.

Polres Pelabuhan Tanjungperak Bongkar Jaringan Sabu, Kurir Gunakan Aplikasi Zangi untuk Hindari Pelacakan

15 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.