Jakarta (beritajatim.com) – Kebahagiaan tengah dirasakan pasangan Rifky Alhabsyi dan Yulia Rahmayani setelah akhirnya dikaruniai putra pertama mereka, Muhammad Rafasya Zayyan Alhabsyi, melalui program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF).
Penantian panjang selama sembilan tahun itu berakhir dengan kelahiran sang bayi berbobot 2,45 kilogram dan panjang 45 sentimeter di Primaya Evasari Hospital, Jakarta.
Perjalanan pasangan ini untuk memperoleh keturunan tidaklah mudah. Yulia diketahui mengalami gangguan pada saluran reproduksi hingga harus menjalani operasi pengangkatan kedua tuba falopi atau salpingektomi.
Kondisi tersebut membuat kehamilan alami maupun inseminasi tidak memungkinkan, sehingga program IVF menjadi satu-satunya pilihan medis untuk mendapatkan buah hati.
Keputusan menjalani program bayi tabung sebenarnya telah dipertimbangkan sejak 2022. Namun, keduanya baru benar-benar memulai proses tersebut pada 2025 setelah mempersiapkan mental dan kondisi secara matang.
Program IVF dimulai pada Februari 2025 melalui prosedur Ovum Pick Up (OPU), lalu dilanjutkan dengan Frozen Embryo Transfer (FET) pada September 2025. Dua minggu setelah transfer embrio dilakukan, tanda awal kehamilan mulai terlihat.
“Perjalanan kami untuk mendapatkan buah hati bukan proses yang mudah. Selama bertahun-tahun kami belajar untuk tetap kuat, pasrah namun tidak menyerah, dan saling mendukung satu sama lain,” ujar Rifky dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Ia mengungkapkan, setelah Yulia menjalani operasi pengangkatan tuba falopi, mereka sempat mencari referensi dari tujuh dokter dan satu profesor sebelum akhirnya memilih Smart Fertility Clinic untuk menjalani program IVF.
“Alhamdulillah akhirnya berjodoh dengan Smart Fertility Clinic. Kami juga memilih Primaya Evasari Hospital sebagai tempat persalinan karena sejak awal datang sudah terasa homey, nyaman, dan memiliki layanan yang lengkap. Yang paling membuat kami tenang adalah kami merasa benar-benar didampingi sejak awal program kehamilan hingga proses persalinan,” katanya.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Primaya Evasari Hospital, dr. Darma Syanty, Sp.OG., Subsp. FER., menjelaskan bahwa setiap pasangan memiliki tantangan fertilitas yang berbeda. Namun, peluang kehamilan tetap dapat diupayakan melalui penanganan medis yang tepat.
“Pada kasus dengan kerusakan tuba yang sudah tidak dapat berfungsi, IVF menjadi pilihan terbaik untuk memperoleh kehamilan,” jelasnya.
Menurut Darma, perjalanan Rifky dan Yulia menjadi salah satu kasus yang berkesan karena keduanya menjalani proses panjang tersebut dengan penuh kesabaran dan dukungan keluarga.
“Padahal dalam kasus ini, hanya ada satu embrio yang berhasil, sehingga kehamilan yang terjadi benar-benar menjadi anugerah yang sangat berarti,” tuturnya.
CEO Smart Fertility Clinic, dr. Laura Leandra Setiawan, mengatakan pihaknya bersyukur dapat menjadi bagian dari perjuangan pasangan tersebut dalam mewujudkan impian memiliki anak.
“Terima kasih kepada Rifky dan Yulia yang telah mempercayakan Smart Fertility Clinic dalam perjalanan mereka. Alhamdulillah, perjuangan panjang tersebut akhirnya berbuah kebahagiaan. Kami berharap kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi para pejuang garis dua bahwa harapan untuk memiliki buah hati selalu ada,” ujarnya.
Selain keberhasilan program IVF, proses persalinan Yulia juga didukung layanan maternal terintegrasi di Primaya Evasari Hospital. Dalam persalinannya, Yulia mendapatkan metode ERACS (Enhanced Recovery After Cesarean Surgery) yang dikombinasikan dengan TAP Block untuk membantu mengurangi nyeri pascaoperasi sekaligus mempercepat pemulihan.
Rifky mengaku dirinya dapat mendampingi langsung proses persalinan sang istri sehingga menjadi pengalaman emosional yang tak terlupakan bagi keluarga kecil mereka.
“Saya bahkan bisa ikut mendampingi proses persalinan, sehingga menjadi momen yang sangat berharga bagi kami berdua. Setelah persalinan pun, istri saya tetap mendapatkan perhatian dan pendampingan selama masa pemulihan,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Primaya Evasari Hospital, dr. Wily Kurniady, MARS, menegaskan pentingnya layanan kesehatan ibu dan anak yang dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.
“Kami percaya pengalaman pasien tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan tindakan medis, tetapi juga oleh kualitas pendampingan yang diberikan selama proses perawatan,” kata Wily.
Ia menambahkan, Primaya Hospital Group terus memperkuat layanan Women & Child Center melalui layanan maternal dan fertility terintegrasi, mulai dari edukasi laktasi, pemeriksaan OAE untuk bayi baru lahir, vaksinasi awal bayi, hingga pendampingan keluarga selama proses persalinan dan pemulihan ibu.
“Kehadiran layanan maternal dan fertility terintegrasi ini diharapkan dapat menjadi harapan baru bagi lebih banyak pasangan yang tengah berjuang mendapatkan buah hati,” pungkasnya. (ted)


as a preferred source on Google




