Aceh Tengah (beritajatim.id) – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan bagi sekolah yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Salah satu langkah prioritas yang kini disiapkan adalah relokasi serta pembangunan sekolah baru untuk SD Negeri 10 Linge yang mengalami kerusakan berat akibat bencana.
Pemerintah menegaskan bahwa upaya pemulihan tidak hanya difokuskan pada keberlangsungan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga memastikan seluruh peserta didik dan tenaga pendidik dapat menjalankan aktivitas pendidikan di lingkungan yang aman dan lebih tangguh terhadap risiko bencana.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menyampaikan bahwa keselamatan warga sekolah menjadi pertimbangan utama dalam proses pemulihan. Karena itu, pemerintah bersama pemerintah daerah dan berbagai mitra terkait terus mengawal penyediaan fasilitas pembelajaran sementara sekaligus menyiapkan dukungan pembangunan sekolah permanen di lokasi relokasi yang dinilai aman.
Kerusakan berat yang dialami SD Negeri 10 Linge membuat bangunan sekolah tidak lagi layak digunakan sebagai tempat belajar. Hasil kajian yang dilakukan bersama sejumlah pihak menetapkan lokasi sekolah lama berada di kawasan berisiko tinggi atau zona merah, sehingga pembangunan kembali di lokasi yang sama tidak direkomendasikan.
Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Aceh, Muhammad Syafran, menjelaskan bahwa relokasi menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari demi menjamin keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik. Menurutnya, langkah tersebut merupakan investasi jangka panjang agar sekolah yang akan dibangun memiliki standar keamanan yang lebih baik terhadap ancaman bencana di masa mendatang.
Sebagai solusi sementara, pembangunan tiga Ruang Kelas Darurat (RKD) mulai dilakukan pada 6 Juni 2026. Lokasi fasilitas sementara tersebut berada sekitar 500 meter dari sekolah lama dan berdekatan dengan area yang direncanakan menjadi lokasi relokasi permanen. Kehadiran ruang kelas darurat diharapkan memungkinkan siswa kembali mengikuti pembelajaran secara lebih nyaman pada tahun ajaran baru sambil menunggu pembangunan sekolah baru selesai.
Kemendikdasmen memperkirakan pembangunan tiga ruang kelas darurat tersebut dapat diselesaikan dalam waktu tiga hingga empat minggu. Dengan demikian, proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih optimal dibandingkan menggunakan fasilitas darurat sebelumnya.
Sejak masa tanggap darurat dimulai, pemerintah telah menyalurkan berbagai bantuan untuk mendukung keberlangsungan pendidikan di SD Negeri 10 Linge. Pada Februari 2026, sekolah menerima tiga unit tenda kelas darurat yang telah beberapa kali diperbaiki akibat kerusakan. Bantuan lainnya disalurkan pada Maret 2026 berupa 93 paket perlengkapan sekolah yang mencakup tas, buku, dan alat tulis.
Selain itu, pemerintah juga mendistribusikan 511 buku teks pelajaran, 100 buku bacaan, serta 96 pasang sepatu bagi peserta didik yang terdampak banjir bandang. Dukungan tersebut diberikan untuk memastikan kebutuhan dasar pendidikan tetap terpenuhi selama masa pemulihan berlangsung.
Kemendikdasmen juga mengalokasikan Dana Operasional Pendidikan Darurat sebesar Rp55 juta kepada SD Negeri 10 Linge. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung pembersihan area pembelajaran sementara, pengadaan mebel darurat, penyediaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi, serta berbagai kebutuhan media pembelajaran.
Sementara itu, Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) Kemendikdasmen melalui Jamjam Muzaki menyampaikan bahwa pemerintah daerah saat ini sedang mempersiapkan lokasi relokasi yang memenuhi aspek keamanan dan legalitas. Status lahan yang jelas dan bebas sengketa menjadi syarat penting agar pembangunan sekolah baru dapat segera direalisasikan.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah, terdapat 17 satuan pendidikan yang harus direlokasi karena terdampak bencana dan berada di kawasan zona merah. SD Negeri 10 Linge menjadi salah satu sekolah yang masuk dalam prioritas penanganan.
Pemerintah daerah telah mengidentifikasi sejumlah calon lokasi relokasi. Namun proses pembebasan lahan dan penyelesaian aspek administrasi masih menjadi tahapan yang harus diselesaikan sebelum pembangunan dapat dimulai. Sebagian sekolah terdampak juga telah masuk dalam skema pendanaan revitalisasi tahap pertama melalui dukungan lintas kementerian maupun program swakelola.
Hingga saat ini, proses pemulihan pascabencana di Aceh Tengah masih berlangsung seiring relokasi warga yang terdampak banjir bandang. Penataan kembali layanan pendidikan dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan lokasi permukiman baru masyarakat agar akses pendidikan tetap mudah dijangkau oleh peserta didik.
Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap seluruh anak terdampak bencana tetap memperoleh hak atas pendidikan yang aman, layak, dan berkelanjutan. Pemulihan sektor pendidikan juga menjadi bagian penting dalam membangun kembali kehidupan masyarakat Aceh Tengah setelah menghadapi bencana yang menyebabkan kerusakan di berbagai sektor. (ian)







