Surabaya (beritajatim.id) – Upaya menghadirkan solusi kesehatan yang lebih ramah lingkungan terus berkembang di kalangan akademisi muda. Kali ini, tim mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas inovasi pembalut luka medis berbahan alami yang berpotensi membantu mencegah infeksi selama proses penyembuhan luka.
Inovasi tersebut mengantarkan tim mahasiswa UNAIR meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) skema Riset Eksakta (RE) Tahun 2026. Melalui penelitian bertajuk “Film Hidrokoloid Inovatif Berbasis Pektin Maizena dan Ekstrak Daun Teh Hijau (Camellia sinensis) untuk Wound Dressing Applications”, mereka mengembangkan alternatif pembalut luka yang memanfaatkan bahan-bahan alami dan berkelanjutan.
Tim peneliti terdiri atas Abdullah Imam Abdul Rahman dari Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKP), Desiva Frisillia Afanty dari Fakultas Farmasi (FF), Alya Nur Azizah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), M Zain Hisyam Al Fikri Zuhdi dari FKP, serta Fisti Nisa Nur Azizah dari Fakultas Kedokteran (FK).
Ketua tim, Abdullah Imam Abdul Rahman, menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan pengembangan material wound dressing yang lebih aman, efektif, sekaligus mendukung konsep layanan kesehatan berkelanjutan atau greener healthcare. Menurutnya, sebagian besar material medis yang digunakan saat ini masih didominasi bahan sintetis, sehingga diperlukan alternatif yang lebih ramah lingkungan tanpa mengurangi efektivitasnya dalam membantu penyembuhan luka.
Dalam penelitian tersebut, tim memanfaatkan kombinasi pektin dan maizena sebagai biopolimer alami yang kemudian dipadukan dengan ekstrak daun teh hijau. Kandungan aktif pada teh hijau dipilih karena memiliki sifat alami yang berpotensi mendukung proses regenerasi jaringan serta membantu menjaga kondisi luka selama masa penyembuhan.
Abdullah menuturkan, pengembangan formulasi dilakukan melalui serangkaian pengujian laboratorium untuk memastikan kualitas dan karakteristik material yang dihasilkan. Tahapan penelitian mencakup pemeriksaan struktur formulasi menggunakan metode Scanning Electron Microscope (SEM) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), dilanjutkan dengan pengujian kekuatan tarik, kemampuan menyerap air, hingga profil pelepasan bahan aktif.
Setelah melewati tahap formulasi dan karakterisasi material, penelitian akan berlanjut pada pengujian secara in vivo. Tim juga merencanakan pemeriksaan histopatologi guna mengevaluasi efektivitas pembalut luka tersebut terhadap proses penyembuhan jaringan.
Meski berhasil mendapatkan dukungan pendanaan nasional, perjalanan penelitian tidak berjalan tanpa tantangan. Tim harus menghadapi berbagai kendala mulai dari pengadaan bahan penelitian, pengurusan akses laboratorium, hingga pelaksanaan uji eksternal. Selain itu, proses penyempurnaan formulasi hidrokoloid membutuhkan banyak percobaan karena karakteristik bahan alami yang digunakan harus disesuaikan agar menghasilkan produk dengan performa optimal.
Menurut Abdullah, berbagai proses trial and error menjadi bagian penting dalam pengembangan inovasi kesehatan berbasis riset. Pengalaman tersebut sekaligus memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai potensi bahan alami sebagai material medis masa depan.
Melalui penelitian ini, tim berharap hasil yang diperoleh dapat menjadi bukti awal atau preliminary evidence bagi pengembangan produk wound dressing berbasis bahan alami di Indonesia. Tidak hanya sebagai inovasi akademik, mereka juga membuka peluang agar hasil penelitian tersebut dapat berkembang menjadi produk yang memiliki nilai komersial dan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Inovasi mahasiswa UNAIR ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya alami lokal masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi teknologi kesehatan modern. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan layanan kesehatan yang berkelanjutan, riset berbasis biomaterial alami seperti pektin, maizena, dan ekstrak teh hijau berpotensi menjadi salah satu solusi masa depan dalam dunia perawatan luka. (hdl)


as a preferred source on Google




