Jakarta (beritajatim.id) – Universitas Paramadina masuk dalam jajaran perguruan tinggi yang dinilai paling aktif berkontribusi dalam diskursus publik berdasarkan analisis berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Penilaian tersebut menyoroti keterlibatan akademisi dalam ruang publik melalui media massa, pusat kajian, serta kontribusi terhadap perumusan kebijakan publik.
Selama ini, pemeringkatan perguruan tinggi di Indonesia umumnya mengacu pada indikator akademik seperti tata kelola, jumlah guru besar, fasilitas, produktivitas riset, hingga publikasi ilmiah. Indikator tersebut dinilai efektif untuk mendorong peningkatan mutu institusi pendidikan tinggi sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Namun demikian, aspek dampak perguruan tinggi terhadap ruang publik dinilai belum banyak menjadi bagian dari sistem pemeringkatan yang tersedia. Padahal, keterlibatan akademisi dalam menyampaikan gagasan, meningkatkan literasi masyarakat, serta memberikan masukan terhadap kebijakan publik menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi di luar aktivitas akademik.
Dalam ilustrasi yang dilakukan menggunakan AI ChatGPT, sistem diminta menjawab pertanyaan mengenai 10 universitas di Jakarta yang paling banyak memberikan pemikiran kepada publik dan masyarakat. AI menjelaskan bahwa daftar tersebut bukan merupakan pemeringkatan resmi, melainkan disusun berdasarkan reputasi akademik, intensitas kehadiran dosen di media, aktivitas pusat kajian (think tank), serta pengaruh terhadap kebijakan publik.
Berdasarkan hasil tersebut, Universitas Indonesia menempati posisi pertama, diikuti Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta di posisi kedua. Universitas Paramadina berada di peringkat ketiga, disusul Universitas Trisakti, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Universitas Nasional, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA, BINUS University, dan Universitas Pancasila.
Dalam penilaiannya, AI menggambarkan Universitas Paramadina sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki kekuatan pada kajian demokrasi, politik, filsafat, dan ekonomi. Kampus tersebut juga dinilai memiliki banyak akademisi yang aktif menjadi narasumber di media massa sekaligus menginisiasi berbagai forum diskusi mengenai isu-isu kebangsaan dan kebijakan publik.
Analisis AI juga menempatkan Universitas Paramadina sebagai salah satu dari lima perguruan tinggi di Jakarta yang dinilai paling berpengaruh terhadap kebijakan publik nasional. Dalam kategori tersebut, Universitas Indonesia berada di posisi teratas, diikuti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Paramadina, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, dan Universitas Trisakti.
Sementara itu, untuk kategori intensitas kehadiran akademisi di media massa dan forum publik, Universitas Paramadina kembali masuk kelompok lima besar bersama Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Trisakti, dan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Kehadiran akademisi dari sejumlah perguruan tinggi tersebut dinilai cukup dominan dalam pembahasan isu ekonomi, politik, hukum, demokrasi, hingga kebijakan publik.
Meski demikian, hasil yang dihasilkan AI tersebut bersifat deskriptif dan tidak dapat disamakan dengan pemeringkatan resmi lembaga pemeringkat perguruan tinggi. Daftar tersebut merupakan hasil sintesis AI berdasarkan berbagai indikator yang tersedia di ruang publik, sehingga lebih menggambarkan persepsi mengenai tingkat kontribusi perguruan tinggi dalam diskursus publik dibandingkan ukuran kinerja akademik formal.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik dan penelitian, tetapi juga dari sejauh mana pemikiran para akademisinya mampu memperkaya ruang publik, mendorong dialog kebangsaan, serta memberikan masukan terhadap proses pengambilan kebijakan di Indonesia. (hdl)


as a preferred source on Google




