Manchester (beritajatim.id) – Spekulasi mengenai masa depan Pep Guardiola di Manchester City kembali menguat. Kabar tentang potensi kepergian pelatih asal Spanyol itu dari Etihad Stadium disebut-sebut berada pada fase paling intens dalam beberapa waktu terakhir, seiring munculnya sinyal bahwa era Guardiola di Manchester Biru bisa mendekati titik akhir.
Di lingkungan internal klub, sejumlah sumber menyadari adanya dugaan kuat bahwa Manchester City tengah memasuki fase transisi pasca-Guardiola. Meski demikian, belum ada kepastian bahwa sang manajer akan mengakhiri masa jabatannya pada akhir musim atau pada bursa transfer musim panas mendatang.
Manajemen City diketahui menjaga rapat seluruh pembahasan terkait masa depan Guardiola. Namun, arus rumor yang berkembang di luar klub terus mengaitkan Guardiola dengan keputusan besar untuk mengakhiri kebersamaannya dengan City, klub yang telah ia tangani hampir satu dekade terakhir.
Secara kontraktual, Guardiola masih terikat dengan Manchester City hingga 16 bulan ke depan, setelah menandatangani perpanjangan kontrak pada November 2024. Kendati demikian, opsi mengakhiri kerja sama lebih awal pada musim panas 2026 dinilai sebagai skenario yang realistis dan bukan hal mengejutkan dalam dinamika sepak bola elite.
Selama bertahun-tahun bersama City, Guardiola dikenal kurang nyaman dengan spekulasi berlarut terkait masa depannya. Mantan pelatih Barcelona dan Bayern Muenchen tersebut memandang kebisingan eksternal sebagai potensi gangguan terhadap stabilitas tim. Faktor inilah yang mendorongnya menyepakati perpanjangan kontrak sebelum musim memasuki paruh kedua.
Menariknya, saat kontrak baru diteken pada November 2024, manajemen City disebut sempat terkejut karena durasinya mencapai dua tahun, bukan satu musim seperti yang sebelumnya diperkirakan. Hal itu sempat dianggap sebagai sinyal komitmen jangka menengah Guardiola di Etihad.
Namun, dalam beberapa pekan terakhir, indikasi perubahan sikap Guardiola mulai terasa. Beberapa pernyataan keras yang dilontarkan terhadap kepemimpinan wasit usai pertandingan dinilai sebagai refleksi meningkatnya ketegangan dan tekanan, sekaligus memicu spekulasi tentang arah kariernya selanjutnya.
Manchester City tentu berharap manajer tersukses dalam sejarah klub tersebut bertahan selama mungkin. Di bawah Guardiola, City menjelma menjadi kekuatan dominan di Liga Inggris dan kompetisi Eropa. Meski demikian, manajemen juga memahami bahwa Guardiola bukan sosok pelatih yang bertahan terlalu lama di satu klub.
Hingga kini, Guardiola masih memilih untuk tidak memberikan pernyataan terbuka mengenai masa depannya di Etihad Stadium. Sikap diam tersebut justru membuat spekulasi terus berkembang, sementara publik menanti apakah musim-musim ke depan akan menjadi bab penutup dari era emas Manchester City bersama Pep Guardiola. (aga)


as a preferred source on Google




