Seoul (beritajatim.id) – Aktris Korea Selatan Han So-hee menjadi sorotan publik usai menyukai unggahan Instagram milik Lee Jun-seok, pemimpin Partai Reformasi Korea. Tindakan tersebut memicu perdebatan karena dianggap sebagai pernyataan politik di tengah suasana politik yang memanas di Korea Selatan. Namun, agensi Han segera memberikan klarifikasi dan menyatakan bahwa aksi tersebut adalah kesalahan tanpa unsur politis apa pun.
Unggahan Lee yang disukai Han memuat surat tulisan tangan dari seseorang yang mengaku menyebarkan rumor palsu tentang sang politisi. Dalam caption-nya, Lee menulis, “Hidup adalah permainan nyata,” dan mengkritik para pendukung “seorang politisi tertentu” yang terus menyebarkan fitnah terhadap dirinya. Ia juga menambahkan, “Jangan mempertaruhkan hidup untuk menyerang orang lain dengan klaim tak terverifikasi.”
Unggahan itu mendapat lebih dari 10.000 likes dalam waktu singkat, dan nama Han So-hee termasuk di antara akun-akun yang teridentifikasi menyukai postingan tersebut. Tindakan ini pun memicu perdebatan luas di media sosial. Beberapa pengguna berpendapat bahwa Han mungkin hanya mendukung pesan anti-hoaks dalam unggahan tersebut, namun tidak sedikit pula yang menilai bahwa selebritas semestinya lebih berhati-hati dalam berinteraksi di ranah publik, terutama terkait konten yang bernuansa politik.
Menanggapi kontroversi ini, agensi Han So-hee menyatakan pada Selasa bahwa tindakan tersebut adalah sebuah “kesalahan yang tidak disengaja, tanpa motif politik.” Mereka menegaskan bahwa Han tidak memiliki niat atau keterlibatan dalam isu politik apa pun.
Ini bukan kali pertama Han So-hee menjadi sasaran perhatian publik terkait aktivitas di media sosial. Pada Maret tahun lalu, ia juga sempat menerima gelombang komentar jahat dan spekulatif tentang kehidupan pribadinya. Kala itu, agensinya menyatakan akan mengambil langkah hukum untuk melindungi artis mereka dari pencemaran nama baik dan ujaran kebencian.
“Sebagai manusia sebelum menjadi aktris, Han mengalami masa yang sangat sulit akibat unggahan spekulatif dan komentar jahat,” ungkap agensi saat itu. “Kami akan menanggapi secara tegas setiap tindakan yang merusak reputasinya.”
Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa interaksi sekecil apa pun di media sosial — termasuk tombol “like” — dapat memiliki dampak besar, terutama bagi publik figur. Meski klarifikasi telah disampaikan, kasus ini menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam bermedia sosial, terlebih ketika menyangkut isu sensitif seperti politik. (mnd)


as a preferred source on Google



