Surabaya (beritajatim.id) – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Surabaya, dr. Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes., memilih mengabdikan profesinya dengan cara yang berbeda. Alih-alih berfokus pada praktik medis di rumah sakit atau klinik modern, alumni Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) ini justru menghabiskan sebagian besar waktunya melayani masyarakat yang hidup di kawasan permukiman padat, bantaran rel kereta api, kolong jembatan hingga lingkungan dengan tingkat kemiskinan tinggi.
Komitmen tersebut membuat Michael dikenal luas sebagai “dokter gelandangan”, sebutan yang lahir dari kedekatannya dengan kelompok masyarakat yang selama ini sulit menjangkau layanan kesehatan. Selama lebih dari satu dekade, ia konsisten menghadirkan pelayanan kesehatan secara langsung kepada warga yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang sosial maupun ekonomi.
Perjalanan akademik Michael turut memperkuat pengabdiannya di bidang kesehatan masyarakat. Setelah berkarier sebagai dokter di sejumlah rumah sakit, ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan di Universitas Airlangga. Pada 2005, ia menyelesaikan studi dengan tesis yang mengkaji strategi promosi layanan laboratorium rumah sakit berdasarkan pertimbangan pasien dalam memilih pelayanan kesehatan.
Pendidikan tersebut memberikan bekal dalam memahami sistem pelayanan kesehatan, manajemen, hingga penyusunan kebijakan publik. Bekal akademik itu kemudian menjadi fondasi dalam merancang berbagai program kesehatan yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan kuratif, tetapi juga pencegahan dan pemberdayaan masyarakat.
Sejak 2009, Michael aktif bersama Yayasan Pondok Kasih melalui program Klinik Keliling Pondok Kasih. Program ini menghadirkan layanan kesehatan gratis, edukasi kesehatan, hingga pendampingan bagi masyarakat yang tinggal di kantong-kantong kemiskinan Surabaya.
Selama lebih dari 15 tahun, ia bersama relawan dan tenaga kesehatan telah menjangkau sedikitnya 167 komunitas miskin. Melalui konsep mobile clinic, pelayanan kesehatan diberikan secara langsung dengan menggandeng puskesmas serta Kader Surabaya Hebat (KSH). Tidak hanya pengobatan, berbagai kegiatan promotif dan preventif seperti pemeriksaan kesehatan berkala, edukasi kesehatan, hingga senam bersama juga rutin dilaksanakan untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat.
Michael menilai peningkatan kualitas kesehatan masyarakat harus dimulai dari upaya pencegahan. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak sebatas mengobati penyakit, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat melalui edukasi yang berkelanjutan.
Pengabdian Yayasan Pondok Kasih juga berkembang ke berbagai sektor lain. Selain pelayanan kesehatan, lembaga tersebut menjalankan program pendidikan melalui ComEdu, pelatihan keterampilan kerja melalui ComDev, serta pembinaan di panti asuhan dan panti werdha. Berbagai program pemberdayaan ekonomi, termasuk budidaya hidroponik, juga dikembangkan untuk membantu masyarakat meningkatkan kemandirian.
Dedikasi Michael terhadap masyarakat marginal mendapat perhatian dunia internasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan apresiasi atas kontribusinya dalam bidang kemanusiaan. Penghargaan tersebut tidak hanya didasarkan pada pelayanan kesehatan yang ia lakukan, tetapi juga kiprahnya membangun fasilitas ibadah, termasuk masjid di wilayah pedalaman, serta membantu penyediaan akses air bersih bagi masyarakat di Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, yang selama bertahun-tahun mengalami keterbatasan akses terhadap sumber air layak.
Pengabdian Michael kemudian berlanjut melalui jalur politik. Pada Pemilu 2024, ia terpilih sebagai anggota DPRD Kota Surabaya dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan bertugas di Komisi D yang membidangi kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial, serta ketenagakerjaan.
Di lembaga legislatif, Michael tetap menempatkan isu kesehatan sebagai prioritas. Ia aktif memberikan masukan terhadap berbagai kebijakan pelayanan kesehatan, termasuk mendorong evaluasi terhadap aturan BPJS Kesehatan mengenai penanganan sejumlah penyakit di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Menurutnya, kebijakan kesehatan harus mempertimbangkan kondisi riil masyarakat agar akses layanan kesehatan tetap mudah dijangkau dan mengutamakan keselamatan pasien.
Ia juga menyoroti sejumlah kebijakan yang dinilai berpotensi menghambat pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk penanganan pasien tuberkulosis (TBC). Berbagai pandangan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem kesehatan yang lebih inklusif dan berpihak kepada masyarakat.
Perjalanan dr. Michael Leksodimulyo menunjukkan bahwa kompetensi akademik dapat berjalan seiring dengan pengabdian sosial. Sebagai alumni Program Magister Administrasi dan Kebijakan Kesehatan FKM Universitas Airlangga, ia tidak hanya berkontribusi dalam pelayanan kesehatan di lapangan, tetapi juga ikut mendorong lahirnya kebijakan publik yang berpihak kepada kelompok rentan. Kiprahnya menjadi contoh bahwa profesi dokter dapat memberikan dampak luas, mulai dari ruang praktik, komunitas masyarakat hingga ruang pengambilan kebijakan. (hdl)


as a preferred source on Google




