Surabaya (beritajatim.id) – Dongeng indah menyelimuti panggung sepak bola Italia. Como 1907, klub yang sempat terpuruk di kasta bawah, resmi memastikan satu tiket ke Liga Champions musim depan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub berdiri.
Kepastian langkah bersejarah ini didapat setelah tim besutan Cesc Fàbregas mengunci peringkat keempat klasemen akhir Serie A dengan raihan 71 poin. Pada laga pamungkas yang krusial, Como tampil perkasa dengan melibas Cremonese lewat skor telak 4-1. Laga tersebut sekaligus menjadi panggung ironis bagi kiper Cremonese keturunan Indonesia, Emil Audero, yang harus memungut bola empat kali dari jalurnya.
Pencapaian ini terbilang luar biasa dan melampaui ekspektasi publik. Sebagai tim yang belum lama kembali ke kasta tertinggi sepak bola Italia, Como 1907 justru mampu menyudahi musim di atas klub-klub raksasa mapan seperti AC Milan dan Juventus.
Keberhasilan I Lariani julukan Como menembus kompetisi antarklub tertinggi di Eropa tidak lepas dari manajemen modern yang sehat. Titik balik klub yang bermarkas di Stadion Giuseppe Sinigaglia ini dimulai pada tahun 2019 saat diakuisisi oleh konglomerat asal Indonesia, Hartono Bersaudara, melalui Djarum Group.
Saat pertama kali diambil alih, Como baru saja merangkak naik dari Serie D (divisi kelima) ke Serie C2. Namun, lewat investasi yang terukur dan pengelolaan yang profesional, mereka hanya membutuhkan waktu singkat untuk terus naik kelas. Como menjuarai Serie C pada tahun 2021, lalu hanya menghabiskan dua musim di Serie B sebelum akhirnya mengamankan tiket promosi ke Serie A pada tahun 2024.
Musim 2024/2025 awalnya diproyeksikan sebagai momen adaptasi setelah mereka absen dari kasta tertinggi sejak era 1949/1950. Namun, di bawah arahan taktis Cesc Fàbregas, Como justru langsung menggebrak dan menutup musim dengan catatan emas ke Eropa.
Keberanian manajemen Como untuk memercayakan kursi kepelatihan kepada Cesc Fàbregas menjadi salah satu kunci utama. Perwakilan manajemen Como 1907 menegaskan bahwa penunjukan legenda Spanyol tersebut didasarkan pada kesamaan visi jangka panjang klub, di mana Fàbregas dinilai berhasil menularkan mentalitas juara yang dimilikinya saat masih aktif sebagai pemain.
Fàbregas, yang awalnya menangani tim junior sebelum naik menjadi pelatih utama, sukses meramu skuad yang kompetitif tanpa harus jor-joran membeli pemain bintang berharga selangit. Kolektivitas tim dan konsistensi permainan menjadi senjata utama Como dalam meruntuhkan dominasi klub-klub tradisional Italia sepanjang musim ini.
Dengan hasil ini, kota kecil di tepi danau Como tersebut kini bersiap menyambut malam-malam megah Liga Champions. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi investasi yang tepat dari Indonesia dan visi sepak bola modern mampu mengubah klub gurem menjadi kekuatan baru yang disegani di Eropa. (aga)


as a preferred source on Google




