Surabaya (beritajatim.id) – Sorak-sorai menggema di stadion saat bola bersarang ke gawang lawan. Di tengah riuh itu, satu gestur sederhana justru mencuri perhatian.
Gelandang asing Persebaya Surabaya, Milos Raickovic, mengangkat tangannya dan menunjuk pergelangan tangan, seolah sedang melihat jam. Selebrasi itu bukan sekadar gaya-ada pesan yang ia titipkan.
Dalam pertandingan yang mempertegas kebangkitan Persebaya Surabaya, Raickovic tampil gemilang dengan dua golnya. Namun, alih-alih larut dalam euforia individu, pemain asal Montenegro itu memilih berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam: waktu.
“Pada akhirnya, waktu yang akan membuktikan kualitas, baik dalam sepak bola maupun dalam kehidupan,” ujar Raickovic usai laga.
Bagi Raickovic, selebrasi tersebut adalah refleksi perjalanan. Sepak bola, seperti hidup, tak selalu berjalan lurus. Ada masa diragukan, ada fase harus membuktikan diri. Dan waktu—bukan sekadar detik yang berlalu—menjadi saksi atas kerja keras, konsistensi, dan keyakinan.
Dua gol yang ia ciptakan seakan menjadi jawaban atas proses panjang itu. Namun, Raickovic tetap membumi. Ia justru mengalihkan sorotan kepada performa kolektif tim, yang menurutnya jauh lebih penting daripada pencapaian personal.
“Tentu saya senang bisa mencetak dua gol, tapi yang paling penting adalah kami meraih tiga kemenangan beruntun tanpa kebobolan. Kami sangat puas dengan tambahan tiga poin ini untuk terus bersaing,” tegasnya.
Persebaya kini tengah menikmati momentum. Tiga kemenangan beruntun tanpa kebobolan menjadi sinyal kuat bahwa tim ini semakin solid, baik di lini depan maupun pertahanan. Konsistensi yang mereka bangun perlahan mengangkat posisi di klasemen.
Saat ini, Persebaya menempati peringkat keempat dengan koleksi 51 poin dari 31 pertandingan. Sebuah posisi yang menjaga asa mereka tetap hidup dalam perburuan papan atas.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, pesan Raickovic terasa relevan-bahwa dalam sepak bola, seperti halnya kehidupan, tak semua bisa diukur dalam satu pertandingan. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk membuktikan segalanya. (ted)


as a preferred source on Google




