Surabaya (beritajatim.id) – Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Hasyim Asy’ari, mengekspresikan harapannya agar debat capres pertama dapat meyakinkan pemilih untuk menentukan pilihan dalam Pemilu 2024. Meski demikian, sejumlah pakar komunikasi politik mengingatkan bahwa tanpa strategi komunikasi yang tepat, harapan tersebut dapat menjadi sia-sia, terutama dalam meraih dukungan kelompok undecided voters, khususnya di kalangan pemilih muda.
Menyikapi hal ini, Jokhanan Kristiyono, pakar komunikasi dari Stikosa AWS, menyoroti perlunya strategi komunikasi yang efektif dan relevan untuk menarik perhatian pemilih yang masih ragu, terutama di kalangan pemuda. Menurutnya, strategi ini harus memperhatikan perspektif calon pemilih, khususnya dari kelompok usia muda.
Jokhanan menekankan bahwa tim pemenangan harus memiliki pemahaman yang baik tentang model kampanye digital kreatif. Mengingat aktivitas pemuda yang cenderung tinggi di media sosial, kampanye digital seperti video pendek, meme, dan konten menarik dapat menjadi sarana efektif untuk membangun kehadiran yang kuat di platform-platform tersebut.
Komunikasi yang efektif, lanjutnya, harus berasal dari kerangka acuan audience, mencakup pengalaman, harapan, nilai, status sosial dan ekonomi, hingga preferensi politik dari kelompok yang ditargetkan. Jokhanan menambahkan bahwa melibatkan undecided voters secara langsung dengan alat partisipasi interaktif, seperti survei online, kuis politik, atau sesi tanya jawab di media sosial, dapat membantu memahami kekhawatiran dan prioritas mereka.
“Penting untuk mengidentifikasi isu-isu yang relevan dan signifikan bagi kelompok usia muda, serta mendiskusikan kebijakan atau rencana yang memenuhi kebutuhan dan aspirasi mereka, seperti pendidikan, pekerjaan, lingkungan, dan kesejahteraan,” ujar Jokhanan.
Selain itu, Jokhanan mengingatkan tim pemenangan tentang pentingnya membangun kepercayaan dengan menunjukkan transparansi dan keterbukaan dalam platform dan visi politik. Informasi yang mudah diakses dan jelas, seperti yang disediakan melalui akun resmi di media sosial dan situs web, dapat membantu pemilih dalam membuat keputusan informasi.
Sejauh ini, beberapa politisi telah melakukan langkah kolaboratif dengan influencer untuk meraih dukungan di kalangan pemuda. Kerjasama dengan tokoh terkenal dapat membantu menyebarkan pesan dengan cara yang autentik dan dapat diterima oleh target audiens.
Jokhanan menilai bahwa debat dan forum terbuka sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi para kandidat untuk berinteraksi langsung dengan pemilih. Namun, ia menyoroti bahwa model debat yang digelar KPU seringkali terbatas oleh waktu dan lebih mirip ajang pertarungan yang kontraproduktif.
Dalam konteks kampanye, Jokhanan menyarankan penggunaan storytelling yang kuat untuk mempengaruhi emosi calon pemilih. Storytelling yang baik, menurutnya, dapat membawa pesan edukasi dengan efektif, terutama bagi pemilih yang masih meragu atau perlu pemahaman lebih dalam tentang sistem politik.
“Dalam menghadapi pemilih yang masih ragu, kita perlu menciptakan koneksi emosional melalui storytelling yang dapat menyentuh hati mereka,” tutup Jokhanan. (hdl)


as a preferred source on Google




