Mataram (beritajatim.id) – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyelenggarakan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2024 di Lombok Raya Hotel, Mataram, dari 30 Oktober hingga 1 November 2024. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Revitalisasi Bahasa Daerah dan telah berlangsung sejak tahun 2022.
Festival ini dihadiri oleh pemenang dan pendamping dari tujuh kategori lomba, termasuk membaca puisi, bercerita, menulis cerpen, menulis aksara, nembang, pidato, dan komedi tunggal, yang semua dilakukan dalam bahasa Sasak, Samawa, dan Mbojo. FTBI bertujuan untuk mengapresiasi hasil belajar siswa serta melestarikan dan menguatkan bahasa daerah.
Sekretaris Badan Bahasa, Hafidz Muksin, dalam sambutannya secara daring, menekankan bahwa FTBI berfungsi untuk menemukan potensi siswa dalam bahasa dan sastra, sekaligus menunjukkan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pelestarian bahasa daerah. “Kegiatan ini bukan hanya untuk melestarikan bahasa, tetapi juga mengembangkan potensi anak-anak dalam bidang bahasa dan sastra,” jelasnya.
Pemenang FTBI tingkat provinsi akan diundang untuk berpartisipasi dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FTBIN) di Jakarta pada Februari 2025. Selain itu, cerpen dari lomba FTBI akan dikumpulkan menjadi antologi berjudul “Khatulistiwa,” dan peserta berbakat akan terus dibina untuk menghasilkan karya-karya luar biasa.
Hafidz juga mengharapkan agar kegiatan ini dapat meningkatkan semangat siswa dan guru dalam melestarikan bahasa daerah. “Mari kita menjadikan lomba FTBI ini sebagai ajang yang menyenangkan untuk meraih masa depan yang lebih gemilang,” imbuhnya.
Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Puji Retno Hardiningtyas, melaporkan bahwa FTBI diikuti oleh 300 peserta dari jenjang SD dan SMP dari sepuluh kabupaten dan kota di NTB. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama melestarikan bahasa Ibu di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas.
Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Lalu Gita Ariadi, yang mewakili Penjabat Gubernur, membuka secara resmi FTBI dengan menekankan pentingnya kebijakan bahasa sebagai bagian dari pembentukan karakter anak. Gita menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung kebijakan pelestarian bahasa dan budaya.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan FTBI dapat terus diadakan dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya bahasa daerah sebagai identitas budaya. (hdl)


as a preferred source on Google




