Jakarta (beritajatim.id) – Serikat Mahasiswa Universitas Paramadina mengadakan Kuliah Kebangsaan bertajuk Lentera Demokrasi: Menerangi Jalan Menuju Keadilan Sosial. Acara ini menghadirkan Sudirman Said, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral periode 2014–2016 sekaligus mantan Rektor Universitas Paramadina, yang menyoroti pentingnya demokrasi sebagai alat untuk menjamin martabat setiap individu, bukan sekadar kebebasan memilih.
Menurut Sudirman, nepotisme adalah ancaman besar bagi demokrasi. “Nepotisme melahirkan pemimpin bukan berdasarkan kemampuan, tetapi hubungan. Dalam 10 tahun terakhir, kualitas demokrasi di Indonesia terus menurun akibat korupsi dan pelemahan institusi seperti KPK,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kerugian negara akibat korupsi semakin besar, namun ironisnya, mereka yang tidak korup justru sering dicurigai.
Sementara Erick Ardianto, akademisi Universitas Paramadina, memaparkan perjalanan demokrasi Indonesia dari masa parlementer hingga era demokrasi gotong royong saat ini. Ia menyoroti ancaman politik dinasti yang masih mendominasi parlemen.
“Sebagian besar anggota legislatif adalah keluarga dekat, seperti anak, orang tua, suami, atau istri. Selain itu, indeks demokrasi terus merosot karena pembatasan kebebasan sipil dan penggunaan hukum sebagai alat kekuasaan,” jelas Erick.
Keadilan Sosial: Pilar Utama Bangsa
Dr. Sunaryo, akademisi Universitas Paramadina lainnya, menegaskan bahwa keadilan sosial adalah inti dari Pancasila, khususnya sila kelima.
Ia mengkritik praktik demokrasi yang lebih mengutamakan loyalitas personal dibanding kemampuan individu, yang berdampak pada penurunan kualitas legislasi.
“Demokrasi bukan sistem sempurna, tetapi memberikan ruang bagi mahasiswa dan pengkritik untuk memperbaiki jalannya pemerintahan,” katanya.
Acara ini menyoroti tantangan yang dihadapi demokrasi Indonesia, termasuk politik dinasti, korupsi, dan pelemahan kebebasan sipil. Para pembicara sepakat bahwa demokrasi harus terus diperjuangkan agar mampu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (hdl)


as a preferred source on Google




