Malang (beritajatim.id) – Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang.
Dalam kunjungannya, Wamen PPPA menyaksikan langsung proses pengemasan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lanud Abdulrachman Saleh.
“Saya mengapresiasi pelibatan 50 perempuan dalam program ini. Selain rapi, bahan makanan yang digunakan segar dan berbasis kearifan lokal, mendukung tujuan menciptakan generasi emas,” ujar Veronica Tan.
Setelah meninjau SPPG, Veronica turut membagikan makanan bergizi gratis di Kelompok Bermain Angkasa Rajawali dan Taman Kanak-Kanak Angkasa 2. Ia juga mengajak anak-anak untuk belajar menyantap makanan sehat sejak dini.
“Anak-anak perlu didampingi dengan pendekatan yang menyenangkan agar mereka terbiasa mengonsumsi makanan bergizi,” tambah Veronica.
Program yang Terus Berkembang
Deputi II Kantor Komunikasi Kepresidenan, Noudhy Valdryno, menyebutkan bahwa program MBG terus diperluas. “Per 15 Januari, pelaksanaannya telah mencakup 31 provinsi, dengan target akhir 2025 menjangkau 15 juta penerima manfaat, dan 82,9 juta penerima pada 2029,” ungkapnya.
Setiap menu dalam program MBG dirancang berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG), dengan pendampingan dari ahli gizi di setiap SPPG. Noudhy menegaskan, evaluasi berkelanjutan dilakukan untuk meningkatkan kualitas program.
Kepala SPPG Lanud Abdulrachman Saleh, Fizar Wildan, menjelaskan bahwa program MBG di kawasan tersebut melayani sekitar 3.464 penerima manfaat setiap hari. Distribusi makanan dilakukan dalam tiga kloter: pukul 07.00 WIB, 09.00 WIB, dan 11.00 WIB.
Persiapan dimulai sejak pukul 13.00 WIB untuk mencuci peralatan dan mempersiapkan bahan baku. Proses produksi hingga distribusi makanan dilakukan dalam tiga sesi, yaitu pukul 01.00 WIB, 03.00 WIB, dan 06.00 WIB. “Quality control dilakukan secara ketat untuk memastikan makanan layak dan bergizi,” ujar Fizar.
Ia juga mengungkapkan bahwa timnya memerlukan waktu tiga hari untuk menemukan ritme kerja yang tepat. “Tantangan di awal cukup besar, tetapi sekarang kami telah memiliki sistem kerja yang efektif,” tambahnya.
Program MBG diharapkan mampu mendukung pemenuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak, serta menjadi model penerapan program gizi berbasis komunitas yang berkelanjutan. (hdl)


as a preferred source on Google




