Gresik (Beritajatim.id) – Di tengah riuhnya aktivitas kendaraan yang melintasi jalur utama antara Gresik dan Lamongan, Jalan Raya Duduksampeyan menyimpan kisah-kisah tragis yang terus berulang. Bagi sebagian warga, jalan ini tak lagi sekadar aspal penghubung antardaerah. Ia telah menjelma menjadi ruang duka, tempat takdir sering kali berubah secepat rem yang gagal ditekan.
Pagi buta di Kamis, 10 April 2025, menjadi saksi bisu salah satu tragedi paling memilukan sepanjang sejarah jalan ini. Sebuah mobil Isuzu Panther berisi delapan anggota keluarga dari Desa Tuwiri Wetan, Kabupaten Tuban, melaju dengan harapan dan doa. Mereka tengah dalam perjalanan ke Bandara Juanda, hendak mengantar Muhammad Aqib, seorang pemuda berusia 27 tahun, untuk menunaikan ibadah umrah. Namun, takdir berkata lain.
Sekitar pukul 05.30 WIB, saat melewati ruas jalan di depan rest area kawasan Duduksampeyan, mobil itu mengalami pecah ban sebelah kiri. Sang sopir, yang merupakan ayah Aqib sendiri, kehilangan kendali. Mobil pun oleng dan berpindah jalur ke arah berlawanan. Saat itulah, sebuah bus pariwisata Rajawali Indah melaju dari arah timur. Dalam sekejap, tabrakan frontal tak terelakkan.
Benturan keras menghantam bagian depan mobil Panther hingga ringsek di bagian depan. Empat orang tewas di tempat, sementara tiga lainnya menyusul dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dari delapan penumpang, hanya satu yang selamat namun dalam kondisi luka berat. Yang paling memilukan, seorang anak balita berusia tiga tahun turut menjadi korban.
Tujuh peti jenazah tiba bersamaan di rumah duka. Tangis pilu warga Desa Tuwiri Wetan pecah, menggema di sepanjang gang dan halaman rumah yang biasa ramai dengan canda tawa keluarga tersebut. Seluruh korban kemudian dimakamkan dalam satu liang lahat di pemakaman desa. Satu liang untuk tujuh nama yang kini hanya tinggal kenangan.
Namun tragedi ini bukan yang pertama. Dan seperti yang diyakini banyak warga, mungkin bukan yang terakhir. Jalan Raya Duduksampeyan sudah sejak lama dijuluki sebagai “jalur tengkorak” oleh masyarakat sekitar. Bukan tanpa alasan. Rentetan kecelakaan maut telah terjadi di sini selama bertahun-tahun. Mulai dari tabrakan truk, motor tergilas, hingga kecelakaan beruntun yang merenggut nyawa banyak orang dalam satu kejadian.
Banyak yang menyebut kondisi jalan sebagai penyebab utama. Jalan yang lurus dan panjang membuat banyak pengemudi memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Minimnya penerangan dan rambu peringatan di beberapa titik menambah risiko kecelakaan. Namun bagi sebagian lainnya, penjelasan teknis saja tidak cukup.
Cerita-cerita mistis pun tumbuh seiring dengan tragedi-tragedi itu. Warga sekitar mengaku sering mendengar suara tangisan anak kecil dari arah semak-semak yang kosong. Ada pula pengakuan sopir truk yang melihat sosok putih berdiri di tengah jalan—tak kasat mata bagi penumpang lainnya. Di kalangan sopir ekspedisi, nama Duduksampeyan sudah menjadi semacam kode. Mereka tahu, jika melintasi jalan ini saat malam, lebih baik memperlambat laju kendaraan, mematikan musik, dan membaca doa.
Beberapa warga bahkan percaya bahwa kecelakaan yang terjadi berulang-ulang di titik yang sama bukanlah kebetulan. Mereka menyebut ada “penunggu” jalan yang haus akan tumbal. Keyakinan itu mungkin terdengar irasional di telinga sebagian orang, tapi dalam dunia yang telah kehilangan banyak nyawa, setiap kepercayaan menjadi pengikat harapan agar tragedi tak terulang.
Pemerintah Kabupaten Gresik telah mengambil sejumlah langkah untuk merespons situasi ini. Mereka meningkatkan jumlah rambu peringatan, memperbaiki aspal yang rusak, dan menambah penerangan jalan umum. Patroli lalu lintas juga diperbanyak, terutama di jam-jam rawan. Namun faktanya, kecelakaan terus terjadi. Seolah-olah jalan ini memiliki takdirnya sendiri.
AKP Diyan dari Satlantas Polres Gresik menyatakan bahwa upaya keselamatan tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Edukasi kepada masyarakat dan penegakan hukum yang ketat harus berjalan beriringan. Ia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kendaraan secara rutin, apalagi saat hendak melakukan perjalanan jauh. Ban pecah, seperti yang terjadi pada tragedi keluarga Aqib, bisa terjadi kapan saja dan membawa dampak fatal jika pengemudi tidak siap.
Hari-hari berlalu, dan Jalan Duduksampeyan tetap sibuk seperti biasa. Truk-truk pengangkut barang melintas, mobil pribadi, angkutan umum, dan motor terus membelah angin di jalur yang tak pernah benar-benar sepi. Namun di balik aktivitas yang tampak normal itu, tersimpan kesadaran kolektif bahwa jalan ini tak bisa dianggap remeh.
Mereka yang pernah kehilangan akan selalu memandang jalan ini dengan perasaan berbeda. Setiap marka, setiap tikungan, adalah pengingat bahwa nyawa manusia sangat rapuh. Bahwa dalam satu kelalaian, satu detik keterlambatan atau pecah ban yang tak terduga, segalanya bisa berakhir.
Jalan Raya Duduksampeyan bukan sekadar aspal. Ia adalah cermin dari kompleksitas kehidupan—antara takdir, kehati-hatian, dan mungkin, kekuatan yang tak bisa dijelaskan. Sebuah perjalanan yang harus dijalani dengan mata terbuka, hati waspada, dan rasa hormat pada kehidupan itu sendiri.


as a preferred source on Google




