Jakarta (beritajatim.id) – PT Brantas Abipraya (Persero), salah satu BUMN Karya unggulan, terus menunjukkan komitmennya dalam membangun infrastruktur strategis nasional. Salah satu proyek andalannya saat ini adalah pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) Paket Lot 3 yang menghubungkan Pantai Serang dan Desa Sumberbersih di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Proyek ini menjadi bagian penting dalam mendukung konektivitas wilayah serta pertumbuhan ekonomi di sepanjang pesisir selatan pulau Jawa.
“Pembangunan JLS Lot 3 ini dirancang untuk menghubungkan tiga provinsi, yakni Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Di Jawa Timur sendiri, jalur ini akan melewati sejumlah kabupaten seperti Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi,” jelas Dian Sovana, Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya.
Proyek JLS Lot 3 yang dimulai sejak 24 April 2024 ini membentang sepanjang 4,334 kilometer dan ditargetkan rampung pada Februari 2026. Kehadirannya diharapkan dapat menjadi solusi atas tantangan aksesibilitas antarwilayah, serta mampu mempermudah mobilitas masyarakat, mengurangi waktu tempuh, dan membuka akses ke daerah-daerah yang sebelumnya terisolasi.
Lebih dari sekadar proyek konstruksi, pembangunan JLS ini menjadi langkah strategis untuk memperkecil ketimpangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Jawa Timur. Dengan terbukanya akses menuju destinasi wisata di pesisir selatan, jumlah wisatawan diyakini akan meningkat dan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Tak hanya fokus di Jawa Timur, Brantas Abipraya juga terlibat aktif dalam pembangunan proyek-proyek besar lainnya di berbagai wilayah Indonesia. Di Sumatera, perusahaan ini turut membangun Jalan Lintas Timur (Jalintim) yang mendukung kelancaran logistik serta operasional Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Jalintim berfungsi sebagai jalur alternatif yang strategis, terutama di wilayah yang belum terhubung dengan tol.
Sementara itu, di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara, Brantas Abipraya sedang mengerjakan beberapa paket infrastruktur utama, termasuk Tol Seksi 3A Karangjoang–KTT Kariangau, Jalan Akses Kerja Sub BWP 1B–1C, dan Jalan Bebas Hambatan Seksi 6B. Proyek-proyek ini tidak hanya mendukung mobilitas di kawasan IKN, tetapi juga menjadi pendorong terciptanya kota pintar (smart city) dan lapangan kerja baru.
“Brantas Abipraya sangat serius dalam perannya meningkatkan konektivitas dan aksesibilitas antarwilayah. Melalui pembangunan jembatan, jalan nasional, hingga jalan tol, kami berkontribusi aktif dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat,” imbuh Dian Sovana.
Sebagai catatan, selain Brantas Abipraya, sejumlah BUMN Karya lainnya juga turut memainkan peran penting dalam pembangunan infrastruktur nasional. PT Adhi Karya (Persero) Tbk membangun LRT Jabodebek, PT Waskita Karya (Persero) menangani proyek LRT Fase 1B Jakarta Velodrome–Manggarai, dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk memimpin pembangunan Kereta Cepat Jakarta–Bandung. Sementara PT Hutama Karya (Persero) membangun Jalan Tol Trans Sumatera sepanjang 2.704 km dari Lampung hingga Aceh.
Pembangunan infrastruktur yang masif dan terintegrasi ini menjadi pilar utama dalam mendukung transformasi Indonesia menuju negara maju, meningkatkan daya saing, dan pemerataan pembangunan antarwilayah. (dya/ted)


as a preferred source on Google




