Bondowoso (beritajatim.id) – Di sebuah gudang besar milik Pabrik Gula (PG) Pradjekan, tumpukan karung gula putih tampak membentuk dinding setinggi hampir tiga meter. Angkanya mencengangkan: 12.301 ton gula tersimpan tanpa kepastian pasar. Dari jumlah itu, 6.195 ton adalah milik petani tebu rakyat, yang kini gelisah menanti hasil panen mereka terbeli.
Sudah tujuh kali lelang dilakukan sejak awal Juli, namun tak satu pun berhasil. Pasar seakan menutup pintu. Padahal, jika dihitung berdasarkan Harga Pokok Penjualan (HPP) pemerintah Rp14.500 per kilogram, dana petani yang tertahan mencapai Rp89,8 miliar.
“Kalau gula ini tak segera terserap, banyak petani yang tak bisa bayar cicilan atau modal tanam berikutnya,” keluh Rolis Wikarsono, Ketua DPC APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia) Bondowoso.
Chandra Wijaya, General Manager PG Pradjekan, menyebutkan gudang penyimpanan hampir penuh. Gudang nomor 1 sudah menampung 11 ribu ton, gudang nomor 2 berisi 1.301 ton, sementara gudang nomor 3 (kapasitas 5 ribu ton) masih kosong.
“Dengan kondisi ini, pabrik hanya bisa menampung produksi hingga 34 hari ke depan atau sampai 22 September 2025,” ujarnya.
Meski menumpuk, Chandra memastikan kualitas gula tetap terjaga. “Disimpan setahun pun masih aman, hanya warnanya agak menguning,” katanya.
APTRI menilai masalah utama adalah gula rafinasi yang “bocor” ke pasar konsumsi. Seharusnya gula rafinasi hanya untuk kebutuhan industri, namun kini masuk ke pasar rumah tangga dengan harga lebih murah.
“Pembeli tentu pilih yang lebih murah, meski kualitas dan peruntukannya berbeda. Konsumen awam banyak yang tidak tahu bedanya,” ujar Rolis.
Data dari Asosiasi Gula Indonesia (AGI) menunjukkan kebutuhan konsumsi gula nasional mencapai 3 juta ton per tahun, sementara kebutuhan industri makanan dan minuman sekitar 3,5–4 juta ton. Namun, kebocoran gula rafinasi ke pasar konsumsi diperkirakan mencapai 200–300 ribu ton per tahun.
Harapan terakhir petani kini tertuju pada program Dana Nasional Tebu Rakyat (DANANTARA). Pemerintah dijanjikan akan menyalurkan dana Rp1,5 triliun untuk menyerap gula rakyat.
“Kalau tidak segera turun, petani bisa bangkrut massal. Tahun depan mungkin banyak yang tidak berani tanam lagi,” tegas Rolis.
Di Bondowoso, sekitar 12 ribu hektare lahan tebu rakyat menggantungkan hidup pada hasil panen yang kini tertahan di gudang.
Masalah menumpuknya gula bukan hanya di Bondowoso. Data Kementerian Pertanian menyebutkan produksi gula nasional 2024 mencapai 2,37 juta ton, naik dari 2,23 juta ton tahun sebelumnya. Namun serapan pasar masih lemah, dan harga acuan pemerintah belum mampu bersaing dengan gula rafinasi impor.
Akibatnya, petani di banyak daerah mengeluh. Di Jawa Timur saja, menurut catatan APTRI Jatim, ada lebih dari 50 ribu ton gula petani yang belum terserap hingga Agustus 2025.
Bagi petani, tumpukan karung gula di gudang bukan hanya soal angka. Itu adalah keringat, harapan, dan masa depan keluarga.
“Kalau gula ini tidak segera dibeli, kami terpaksa gali utang lagi untuk bertahan hidup,” kata Sugiarto, petani tebu asal Curahdami, dengan nada getir.
Di tengah manisnya gula yang terbungkus rapi di gudang, ada getir panjang yang dirasakan petani. Mereka masih menunggu jawaban: apakah negara hadir untuk menyelamatkan nasib tebu rakyat, atau membiarkan manisnya gula hanya menjadi pajangan di gudang pabrik. (awi)


as a preferred source on Google




