Mojokerto (beritajatim.id) – Wakil Bupati Mojokerto, Muhammad Rizal Octavian, resmi membuka Kejuaraan Pencak Silat Piala Bupati Cup 2025 pada Jumat (29/8/2025).
Acara berlangsung di Pondok Pesantren Islamic Center El-Kisi, Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, dan diikuti ratusan pesilat dari berbagai wilayah Kabupaten Mojokerto.
Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Wabup Rizal sebagai simbol dimulainya kompetisi yang akan berlangsung selama tiga hari. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya olahraga, melainkan warisan budaya yang mencerminkan jati diri bangsa.
“Sudah sepantasnya pencak silat diajarkan kepada seluruh masyarakat, bahkan sejak usia dini. Ini bagian dari menjaga kelestarian warisan leluhur,” ujar Rizal di hadapan peserta dan tamu undangan.
Mas Wabup juga menyoroti tantangan di era digital, ketika minat generasi muda terhadap seni bela diri tradisional mulai tergerus oleh penggunaan gawai. Ia berharap ajang Bupati Cup bisa menjadi pemantik semangat bagi pendekar muda untuk terus mencintai dan menghidupkan pencak silat.
“Melalui kejuaraan ini, saya berharap para pendekar dan praktisi pencak silat bisa lebih aktif menghidupkan serta melestarikan pencak silat di lingkungan masing-masing,” imbuhnya.
Selain sebagai ajang kompetisi, kejuaraan ini juga menjadi wadah mempererat persatuan serta menumbuhkan nilai sportivitas di kalangan atlet. Rizal menekankan bahwa tujuan utama kegiatan bukan sekadar mengejar kemenangan, melainkan membina karakter generasi muda sekaligus memperkaya khazanah seni bela diri nusantara.
“Semoga kejuaraan ini menjadi langkah nyata dalam melestarikan pencak silat di Kabupaten Mojokerto,” tutupnya.
Acara pembukaan turut dihadiri perwakilan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar), Ketua KONI, Ketua IPSI Kabupaten Mojokerto, Forkopimca Pungging, jajaran panitia, serta dewan juri. Kompetisi ini mempertandingkan berbagai kategori usia dan kelas, dan diharapkan menjadi agenda tahunan untuk pembinaan atlet sekaligus pelestarian budaya daerah. (tin)







