Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»Lifestyle»Candi Ngetos, Jejak Raja Hayam Wuruk dari Masa Kejayaan Majapahit di Nganjuk

Candi Ngetos, Jejak Raja Hayam Wuruk dari Masa Kejayaan Majapahit di Nganjuk

Hendro D. LaksonoHendro D. Laksono Lifestyle 24 Oktober 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Candi Ngetos di Nganjuk
Candi Ngetos di Nganjuk

Nganjuk (beritajatim.id) – Candi Ngetos merupakan salah satu peninggalan bersejarah dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Candi bercorak Hindu ini diperkirakan dibangun pada abad ke-15 Masehi, menjadikannya salah satu situs penting pada masa akhir pemerintahan Majapahit.

Bangunan candi berdiri di tepi jalan beraspal yang menghubungkan Desa Kuncir dan Ngetos, sekitar 17 kilometer arah selatan dari pusat Kota Nganjuk. Meski kini kondisinya tidak lagi utuh, Candi Ngetos tetap menjadi saksi bisu sejarah panjang kerajaan terbesar di Nusantara.

Dibangun untuk Raja Hayam Wuruk

Sejumlah ahli sejarah memperkirakan bahwa Candi Ngetos dibangun sebagai tempat pemakaman Raja Hayam Wuruk, penguasa besar Majapahit yang memimpin pada puncak kejayaannya.

Hal ini diperkuat oleh cerita rakyat setempat yang menyebut bahwa Hayam Wuruk berwasiat agar abunya disemayamkan di wilayah Ngetos, karena daerah tersebut menghadap Gunung Wilis—yang dianggap sebagai simbol Gunung Mahameru, tempat para dewa menurut kepercayaan Hindu.

Pembangunan candi konon diprakarsai oleh Raden Ngabei Selopurwoto, paman Hayam Wuruk yang juga dikenal sebagai Raja Ngatas Angin. Pekerjaan pembangunannya dipercayakan kepada Empu Supo, seorang empu sakti yang dikenal dalam legenda Majapahit.

Struktur dan Arsitektur Candi

Candi Ngetos dibangun menggunakan batu bata merah—bahan khas percandian Majapahit—dengan teknik menumpuk batu hingga ketinggian tertentu, kemudian diukir dari atas ke bawah. Sisa bangunan utama yang masih terlihat kini memiliki ukuran:

  • Tinggi badan: 5,43 meter
  • Tinggi keseluruhan: 10 meter
  • Lebar pintu masuk: 0,65 meter
  • Ruang dalam: 2,4 meter
Baca Juga:  Candi Kidal: Menelusuri Jejak Anusapati, Pesan Moral Garudeya, dan Bakti Seorang Raja

Menariknya, tangga candi berada di sisi barat, menandakan orientasi bangunan yang menghadap ke barat—sesuai tradisi percandian Hindu pada masa itu.

Relief dan Ornamen Khas Siwa–Wisnu

Dari arca dan relief yang ditemukan di sekitar lokasi, para arkeolog menyimpulkan bahwa Candi Ngetos bersifat Siwa–Wisnu, mencerminkan sinkretisme dua dewa utama dalam ajaran Hindu. Hal ini sesuai dengan keyakinan Raja Hayam Wuruk yang dikenal menganut aliran Siwa–Wisnu (Harihara).

Relief di tubuh candi menampilkan motif kala besar berukuran sekitar dua meter, dengan wajah menyeramkan yang dipercaya berfungsi sebagai penolak bala. Gaya hias ini banyak dijumpai pada candi-candi di Jawa Timur dan Bali, serta memiliki akar dari seni India kuno.

Arca dan Temuan Arkeologis

Kini, tidak ada lagi arca yang tersisa di kompleks Candi Ngetos. Namun menurut catatan ahli Belanda N.J. Krom, pernah ditemukan sebuah arca Wisnu yang kemudian disimpan di Kediri. Penduduk setempat juga meyakini bahwa dahulu terdapat dua arca utama—Siwa dan Wisnu—yang menjadi simbol keseimbangan alam semesta.

Legenda Dua Candi Kembar di Ngetos

Cerita rakyat Ngetos menyebut bahwa dulunya di kawasan ini berdiri dua candi kembar yang dikenal sebagai Candi Tajum. Salah satunya berukuran lebih besar dan diyakini sebagai tempat penyimpanan abu Hayam Wuruk. Pandangan ini diperkuat oleh Krom yang menduga keberadaan Paramasoeklapoera, tempat perabuan raja di sekitar kompleks Ngetos.

Baca Juga:  Koenigsegg Jesko, Hypercar Super Langka yang Sempat Bikin Heboh Dunia Otomotif Indonesia

Nama Tajum sendiri diperkirakan berasal dari kata Tajung (sekarang Berbek, Kediri), wilayah yang disebut-sebut sebagai tempat pemakaman Hayam Wuruk oleh sejarawan Soekmono.

Nilai Sejarah dan Wisata Budaya

Candi Ngetos bukan hanya peninggalan arkeologis, tetapi juga menjadi sumber inspirasi budaya dan spiritual bagi masyarakat setempat. Setiap tahun, kawasan ini ramai dikunjungi wisatawan dan peziarah yang ingin mengenal lebih dekat jejak peradaban Majapahit di Nganjuk.

Meski sebagian struktur telah rusak akibat usia dan faktor alam, pemerintah daerah bersama Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur terus melakukan upaya konservasi agar situs ini tetap lestari sebagai bagian dari warisan sejarah bangsa.

Sebagai peninggalan masa akhir Majapahit, Candi Ngetos menyimpan nilai historis, arsitektural, dan spiritual yang tinggi. Di balik bata merahnya yang mulai rapuh, tersimpan kisah kejayaan dan kemegahan Raja Hayam Wuruk—sosok pemimpin yang membawa Majapahit menuju puncak kejayaan Nusantara. (hdl)

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
candi Hayam Wuruk Hindu Majapahit Nganjuk
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

Jangan Dianggap Sepele, Toxic Relationship Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik

17 Juli 2026 Lifestyle

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026 Lifestyle
Ilustrasi penderita flu (foto : xframe)

Kemarau Basah Juli 2026: Kasus Flu dan Batuk Meningkat, Ini Penyebab serta Cara Mencegahnya

7 Juli 2026 Lifestyle

Gen Z Ramai Pilih Intimate Wedding, Lebih Personal dan Jadi Investasi untuk Kehidupan Setelah Menikah

7 Juli 2026 Lifestyle

5 Cara Mengatasi Sulit Tidur Setelah Terbangun Tengah Malam, Jangan Langsung Lihat Jam!

3 Juli 2026 Lifestyle

9 Manfaat Mewarnai bagi Anak yang Jarang Disadari, Tak Sekadar Asah Kreativitas tetapi Dukung Tumbuh Kembang

2 Juli 2026 Lifestyle
Leave A Reply Cancel Reply

Jangan Dianggap Sepele, Toxic Relationship Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik

17 Juli 2026
Berita Terbaru
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko

Polri Gandeng UPH dan Komdigi Edukasi Mahasiswa Cegah Judi Online Lewat Program Polri Goes to Campus

16 Juli 2026
Polres Mojokerto Kota memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Silaturahmi Kamtibmas, mendorong keamanan, pelayanan publik, dan keselamatan berlalu lintas.

Polres Mojokerto Kota Perkuat Sinergi dengan Warga Lewat Silaturahmi Kamtibmas dan Ajak Jaga Keamanan Bersama

16 Juli 2026

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026

Setjen DPD RI Buka Program Magang Nasional 2026, Kuota 233 Orang dengan Uang Saku hingga Rp6 Juta

16 Juli 2026
Lionel Messi

Messi Antar Argentina Singkirkan Inggris dan Melaju ke Final Piala Dunia, Siap Tantang Spanyol

16 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.