Jakarta (beritajatim.id) – Masyarakat di berbagai daerah Indonesia masih merasakan hujan dalam beberapa hari terakhir meski secara klimatologis telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, terlebih bersamaan dengan meningkatnya keluhan flu dan batuk di lingkungan kerja maupun aktivitas sehari-hari.
Indonesia sebetulnya sudah memasuki musim kemarau pada Juli 2026. Namun, karakter kemarau tahun ini masih diwarnai hujan lokal akibat aktivitas dinamika atmosfer yang masih cukup aktif di wilayah Indonesia.
Menurut BMKG, sejumlah fenomena atmosfer seperti Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, dan sirkulasi siklonik masih memicu pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah. Akibatnya, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi meski sebagian besar wilayah telah berada pada fase kemarau.
Berdasarkan data BMKG per Juli 2026, sekitar 83 Zona Musim (ZOM) diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada bulan ini. Wilayah tersebut meliputi sebagian Pulau Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara Timur bagian selatan hingga sebagian Papua. Sementara itu, puncak musim kemarau secara nasional diprediksi akan semakin meluas pada Agustus mendatang.
Fenomena yang kerap disebut sebagai “kemarau basah” ini membuat cuaca berubah dengan cepat. Kondisi terik pada siang hari dapat berganti mendung bahkan hujan dalam waktu singkat. Perubahan suhu dan kelembapan yang drastis tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya tahan tubuh masyarakat.
Selain perubahan suhu, meningkatnya embusan angin pada awal musim kemarau juga membawa lebih banyak debu dan partikel halus di udara. Kondisi tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga memicu batuk, memperparah gejala alergi, sekaligus meningkatkan risiko penularan infeksi virus pernapasan.
Situasi ini juga terlihat di berbagai lingkungan kerja, ketika sejumlah pekerja mengalami flu dan batuk dalam waktu yang hampir bersamaan. Penularan lebih mudah terjadi karena aktivitas berlangsung di ruang tertutup dengan penggunaan fasilitas bersama selama berjam-jam.
Karena itu, penerapan langkah pencegahan sederhana tetap menjadi cara paling efektif untuk menekan risiko penyebaran penyakit. Penggunaan masker saat mulai mengalami gejala flu atau batuk, menjaga etika batuk dan bersin, mencuci tangan secara rutin, serta membersihkan permukaan benda yang sering disentuh seperti meja, keyboard, mouse, dan gagang pintu dapat membantu mengurangi penularan.
Sirkulasi udara di dalam ruangan juga perlu mendapat perhatian. Membuka ventilasi secara berkala atau menggunakan penyaring udara dengan filter HEPA dapat membantu memperbaiki kualitas udara di ruang kerja yang menggunakan pendingin ruangan sepanjang hari.
Selain menjaga lingkungan, masyarakat juga dianjurkan memperkuat daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat. Konsumsi air putih yang cukup berperan menjaga kelembapan saluran pernapasan sehingga mekanisme pertahanan alami tubuh tetap bekerja optimal dalam menyaring partikel maupun virus.
Asupan gizi seimbang, konsumsi vitamin sesuai kebutuhan seperti vitamin C, vitamin D3, maupun zinc, serta tidur yang cukup juga menjadi faktor penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Para ahli kesehatan mengingatkan bahwa konsumsi vitamin dalam dosis berlebihan tidak selalu memberikan manfaat tambahan karena kemampuan tubuh menyerap nutrisi memiliki batas tertentu.
Aktivitas fisik tetap dianjurkan selama kondisi tubuh sehat dengan intensitas sedang, seperti berjalan kaki, bersepeda santai, atau yoga. Namun, apabila mulai muncul gejala seperti meriang, pegal, atau demam, olahraga sebaiknya dihentikan sementara agar tubuh dapat fokus melawan infeksi.
Pengalaman selama pandemi COVID-19 membuat masyarakat kini lebih peka terhadap meningkatnya kasus penyakit pernapasan. Meski demikian, kondisi saat ini berbeda karena sistem layanan kesehatan, ketersediaan obat, dan pemahaman masyarakat mengenai pencegahan penyakit telah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.
Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan tanpa menimbulkan kepanikan. Menjaga kebersihan, menerapkan etika kesehatan di ruang publik, menggunakan masker ketika bergejala, serta mempertahankan pola hidup sehat menjadi langkah rasional untuk mengurangi risiko tertular flu dan batuk selama fenomena kemarau basah masih berlangsung. (hdl)


as a preferred source on Google




