Surabaya (beritajatim.id) – Para penggemar astronomi tengah bersiap menyambut Hujan Meteor Geminid yang diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir pekan. Fenomena tahunan ini dikenal sebagai salah satu hujan meteor paling aktif, dengan potensi kemunculan hingga sekitar 120 meteor per jam ketika kondisi langit berada dalam keadaan ideal.
Hujan meteor ini dinamai Geminid karena titik asal kemunculannya tampak berasal dari konstelasi Gemini. Berbeda dari mayoritas hujan meteor yang biasanya berasal dari sisa material komet,
Geminid memiliki sumber yang unik, yakni debu dan serpihan batuan yang ditinggalkan asteroid Phaethon. Asteroid tersebut disebut sebagai “induk” dari aliran partikel yang terbakar ketika melintas di atmosfer Bumi dan tampak sebagai bintang jatuh. Fenomena ini terjadi setiap Desember saat Bumi memasuki jalur lintasan serpihan Phaethon.
Puncak aktivitas Geminid diperkirakan terjadi pada malam akhir pekan ini, dengan kondisi terbaik untuk menyaksikannya berada pada rentang waktu setelah tengah malam hingga menjelang subuh. Umumnya, penampakan paling optimal muncul sekitar pukul dua dini hari waktu setempat.
Geminid dikenal bergerak lebih lambat dibandingkan meteor dari hujan meteor lainnya sehingga jejak cahaya yang muncul lebih mudah diamati dan bahkan dipotret. Beberapa meteor yang melintas sering tampak berwarna, mulai dari kuning, hijau, biru, hingga kemerahan, sehingga menjadikannya salah satu pertunjukan langit yang dinantikan setiap tahun.
Untuk mendapatkan pengalaman pengamatan yang maksimal, sejumlah ahli astronomi mengingatkan pentingnya memilih lokasi yang minim polusi cahaya agar jumlah meteor yang terlihat dapat lebih banyak.
Arah pandang dapat diarahkan ke kawasan timur laut tempat konstelasi Gemini berada, meskipun meteor tidak selalu muncul tepat dari titik tersebut karena lintasannya kerap terlihat lebih menarik di bagian langit lainnya. Selain itu, penyesuaian mata terhadap kegelapan memerlukan waktu sekitar dua puluh hingga tiga puluh menit sehingga pengamat disarankan menghindari cahaya terang selama proses adaptasi.
Karena pengamatan berlangsung pada larut malam, para pengamat juga diimbau mempersiapkan diri dengan mengenakan pakaian hangat atau perlindungan tambahan, mengingat cuaca di akhir tahun yang cenderung lembap atau dingin, terutama di sejumlah wilayah Indonesia.
Fenomena Geminid kembali diharapkan menjadi salah satu tontonan langit paling menawan menjelang akhir tahun, asalkan cuaca mendukung dan langit cukup cerah untuk menyaksikan kilatan meteor yang melintas dari berbagai sudut langit. (adi)


as a preferred source on Google




