Surabaya (beritajatim.id) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengajak Alumni Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan visi Indonesia Maju 2045. Ajakan tersebut disampaikan dalam Kongres Alumni Teknik Sipil ITS (ALSITS) 2025 yang digelar di Gedung Danareksa, Jakarta.
Dalam forum bertema Kepemimpinan dan Transformasi Infrastruktur Indonesia Maju, Emil menekankan bahwa pembangunan infrastruktur memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional dan pembangunan wilayah berkelanjutan. Ia memandang, infrastruktur tidak hanya berfungsi sebagai pendukung aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai penggerak transformasi konektivitas, sistem logistik, serta tulang punggung digital yang memperkuat integrasi nasional.
Emil menilai, untuk mencapai target Indonesia Maju 2045 diperlukan kepemimpinan visioner yang mampu berpikir lintas sektor. Menurutnya, penyelarasan antara fungsi ekonomi dan sosial, serta perencanaan jangka panjang yang matang, menjadi kunci keberhasilan pembangunan infrastruktur. Ia juga menyoroti pentingnya kepemimpinan kolaboratif guna menjaga harmonisasi kepentingan antara pemerintah pusat dan daerah.
Lebih lanjut, Emil menyampaikan bahwa pendekatan co-creation dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan menjadi kebutuhan utama dalam menyelesaikan berbagai hambatan pembangunan. Di Jawa Timur, sejumlah tantangan strategis seperti transformasi sistem logistik, penguatan konektivitas antarwilayah, hingga peningkatan ketahanan dan mitigasi risiko bencana memerlukan kerja sama lintas sektor yang solid.
Sebagai Gerbang Baru Nusantara, Emil memaparkan bahwa Jawa Timur memiliki posisi kunci sebagai penggerak nilai tambah nasional atau orkestrator value chain nasional. Peran tersebut diwujudkan melalui penguatan rantai pasok industri, termasuk hilirisasi lanjutan bahan baku olahan dari luar Pulau Jawa.
Emil juga menekankan bahwa keberhasilan proyek infrastruktur sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan aspek teknis, sosial, dan politik. Pengalaman saat menjabat sebagai Bupati Trenggalek menjadi contoh pentingnya pengambilan kebijakan berbasis riset, termasuk dengan melibatkan para ahli dalam penanganan bencana longsor. Ia menilai, kepekaan terhadap persoalan masyarakat dan ketepatan pengambilan keputusan menjadi faktor penentu kredibilitas pemimpin daerah.
Menurut Emil, pembangunan infrastruktur merupakan produk kebijakan publik yang membutuhkan dukungan berbagai unsur, mulai dari legislatif, pemerintah, kalangan insinyur, hingga masyarakat. Di sisi lain, keterbatasan anggaran kerap menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dalam merealisasikan proyek infrastruktur secara optimal. Oleh karena itu, penguatan kebijakan melalui kolaborasi multipihak dinilai menjadi solusi yang realistis.
Emil juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada tahap konstruksi, melainkan harus disertai komitmen perawatan dan pengelolaan berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Rektor ITS Bambang Pramujati menyampaikan apresiasi atas kontribusi berkelanjutan Alumni Teknik Sipil ITS terhadap almamater dan pembangunan nasional. Ia mengibaratkan Teknik Sipil sebagai fondasi utama yang menopang ITS sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi. Bambang menilai, kepemimpinan sejati bukan ditentukan oleh kecerdasan individu semata, melainkan oleh kemampuan merangkul dan menggerakkan organisasi untuk mencapai visi bersama.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Alumni ITS Wiluyo Kusdwiharto menambahkan bahwa Kongres ALSITS 2025 menjadi momentum penting dalam memilih kepemimpinan baru. Ia menegaskan komitmen civitas akademika dan alumni ITS untuk terus berkontribusi aktif dalam pembangunan, khususnya di Jawa Timur dan Indonesia secara luas. Peran alumni Teknik Sipil ITS, menurutnya, telah terbukti dalam mendorong terwujudnya berbagai proyek infrastruktur strategis di Tanah Air. (ris)


as a preferred source on Google




