Surabaya (beritajatim.id) – Fenomena Generasi Z rela bekerja lembur demi bisa berlibur kini semakin jamak ditemui di lingkungan kerja modern. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z memiliki cara pandang unik terhadap karier, penghasilan, dan kebahagiaan hidup.
Jika dulu lembur identik dengan ambisi promosi jabatan atau kestabilan jangka panjang, bagi Gen Z lembur justru dipandang sebagai strategi jangka pendek untuk mendapatkan pengalaman hidup, terutama traveling dan healing.
Gen Z tumbuh di tengah pesatnya perkembangan digital, dominasi media sosial, serta kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Mereka menyaksikan langsung dampak krisis ekonomi, pandemi, hingga tekanan kerja yang dialami generasi sebelumnya.
Pengalaman tersebut membentuk pola pikir bahwa hidup tidak melulu soal bekerja tanpa henti. Bagi Gen Z, bekerja keras harus diimbangi dengan menikmati hidup. Lembur tidak selalu dimaknai sebagai bentuk loyalitas mutlak, melainkan alat untuk mencapai tujuan personal.
Tambahan jam kerja berarti tambahan penghasilan yang bisa dialokasikan untuk tiket pesawat, akomodasi, hingga biaya liburan yang sudah direncanakan.
Label “malas” yang kerap disematkan pada Gen Z tidak sepenuhnya tepat. Faktanya, banyak dari mereka memandang liburan sebagai kebutuhan kesehatan mental. Traveling dipercaya mampu mengurangi stres, mencegah burnout, sekaligus menjaga produktivitas jangka panjang.
Tak heran, pekerja Gen Z kerap rela mengambil jam lembur, proyek tambahan, hingga pekerjaan freelance asalkan setelahnya bisa mengambil cuti untuk bepergian dan menyegarkan pikiran.
Media sosial menjadi faktor kuat yang mendorong tren ini. Konten traveling, staycation, hingga gaya hidup digital nomad membanjiri platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube.
Secara tidak langsung, media sosial menciptakan standar gaya hidup baru: bekerja keras, lalu menikmati liburan yang estetik dan berkesan. Bagi Gen Z, liburan bukan sekadar berpindah tempat, melainkan mengumpulkan pengalaman dan cerita yang bisa dibagikan.
Foto dan video perjalanan pun menjadi simbol pencapaian personal, membuat lembur terasa sepadan dengan hasil yang didapat.
Di balik semangat liburan, Gen Z juga dihadapkan pada realitas ekonomi yang cukup berat. Harga kebutuhan hidup terus naik, sementara gaji awal kerap belum ideal.
Untuk tetap bisa traveling tanpa mengorbankan kebutuhan pokok, lembur dianggap sebagai solusi paling masuk akal. Alih-alih menunggu kenaikan gaji tahunan, mereka memilih cara cepat menambah pemasukan dengan memaksimalkan jam kerja.
Meski sering disebut menolak hustle culture, Gen Z sebenarnya tidak anti kerja keras. Mereka hanya lebih selektif. Lembur tanpa tujuan jelas cenderung ditolak, tetapi lembur yang mendukung target pribadi justru diterima.
Hal ini melahirkan definisi baru tentang work-life balance. Bagi Gen Z, keseimbangan bukan soal jam kerja yang sedikit, melainkan kendali atas waktu, tujuan, dan hasil kerja keras.
Tren ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan. Gen Z bersedia bekerja ekstra, tetapi mereka juga menuntut fleksibilitas, cuti yang adil, serta apresiasi yang transparan.
Perusahaan yang mampu memahami pola pikir ini umumnya lebih berhasil dalam mempertahankan talenta muda dan menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Fenomena Gen Z rela lembur demi bisa berlibur bukan sekadar tren sesaat. Ini mencerminkan perubahan nilai dalam dunia kerja modern. Bagi Gen Z, kerja keras dan menikmati hidup bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan berjalan beriringan untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. (aga)


as a preferred source on Google




