Surabaya (beritajatim.id) – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan yang aktif dalam kerja-kerja kemanusiaan. Menjelang akhir 2025, UNAIR secara resmi melepas tiga mahasiswa relawan untuk membantu pemulihan wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh Utara, Sumatra.
Ketiga mahasiswa tersebut berasal dari dua unit kegiatan mahasiswa, yakni UKM WANALA dan Airlangga Photography Society (APS). Mereka adalah Julio Gitra Setiawan dan Dhea Arda Noor Syamsu dari WANALA, serta Daffa Brani Achmad Maulana dari APS. Keberangkatan mereka menuju lokasi bencana dilakukan pada Senin, 29 Desember 2025, dengan tujuan utama wilayah Lhokseumawe dan sekitarnya.
Pelepasan relawan dilakukan secara simbolis oleh Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR, Prof. Hery Purnobasuki. Dalam pandangannya, keterlibatan mahasiswa dalam misi kemanusiaan ini mencerminkan nilai kepedulian sosial yang menjadi bagian penting dari identitas civitas akademika UNAIR. Kontribusi mahasiswa, baik dalam bentuk tenaga, dukungan material, maupun kehadiran langsung di tengah masyarakat terdampak, dinilai memiliki arti penting dalam proses pemulihan pascabencana.
Selain menekankan semangat solidaritas, Prof. Hery juga menggarisbawahi pentingnya kemampuan adaptasi relawan di lapangan. Menurutnya, wilayah terdampak bencana tidak hanya menghadirkan tantangan alam, tetapi juga dinamika sosial masyarakat setempat. Karena itu, relawan diharapkan mampu memosisikan diri secara tepat sebagai tamu yang datang membawa niat baik dan meninggalkan dampak positif.
Dari sisi organisasi, keterlibatan UKM WANALA dalam misi ini bukanlah hal baru. Pembina UKM WANALA, Nur Aini Hidayati, menilai bahwa kehadiran relawan UNAIR di Aceh Utara merupakan kelanjutan dari tradisi panjang WANALA dalam merespons berbagai bencana nasional. Sebelumnya, UKM tersebut juga aktif mengirimkan relawan ke lokasi bencana seperti gempa Lombok dan Palu.
Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi para mahasiswa dalam menjalankan tugas kemanusiaan di Aceh. Dengan bergabung bersama relawan dari berbagai daerah, mahasiswa UNAIR diharapkan mampu berkontribusi dalam upaya pemulihan lingkungan dan pendampingan masyarakat terdampak secara berkelanjutan.
Lebih jauh, pengiriman relawan ini menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pendidikan dan riset semata. Di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam di Indonesia, keterlibatan mahasiswa menjadi elemen strategis dalam memperkuat solidaritas sosial dan ketangguhan masyarakat. Kehadiran mereka di lapangan tidak hanya membantu pemulihan fisik wilayah terdampak, tetapi juga menghadirkan dukungan moral bagi masyarakat yang sedang berjuang bangkit.
Melalui langkah ini, UNAIR kembali menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan nilai-nilai pengabdian kepada masyarakat. Misi relawan ke Aceh Utara menjadi bagian dari upaya berkelanjutan kampus dalam menanamkan empati, tanggung jawab sosial, dan kepemimpinan kemanusiaan kepada generasi muda. (ris)


as a preferred source on Google




