Jakarta (beritajatim.id) – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga berdampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja baru di berbagai daerah.
Seiring bertambahnya jumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi, kebutuhan tenaga operasional meningkat tajam. Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa setiap satu dapur SPPG rata-rata memerlukan sekitar 47 relawan untuk mendukung operasional penyediaan makanan bergizi.
Dengan jumlah dapur SPPG yang telah beroperasi mencapai sekitar 21.000 unit di berbagai wilayah Indonesia, program MBG diperkirakan telah menyerap sedikitnya 987.000 tenaga kerja secara langsung.
Dampak Berganda ke UMKM Pangan
Tidak hanya tenaga kerja langsung di dapur MBG, program ini juga memicu efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi pemasok bahan pangan.
Berdasarkan hasil pendalaman tim investigasi BGN, pelaku UMKM seperti produsen tahu, tempe, telur asin, hingga pemasok sayuran mengalami peningkatan permintaan. Untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG, rata-rata mereka harus menambah tiga hingga lima pekerja baru.
Dengan asumsi terdapat sekitar 15 pemasok untuk setiap dapur SPPG dan jumlah dapur yang kini mendekati 22.000 unit, program ini diperkirakan mampu menggerakkan sekitar 40.000 UMKM di seluruh Indonesia. Dari sisi penyerapan tenaga kerja tidak langsung, jumlahnya diproyeksikan mencapai tiga hingga empat juta orang.
Anggaran Rp15.000 per Porsi Gerakkan Rantai Pasok Lokal
Anggaran sebesar Rp15.000 per porsi dalam Program MBG dinilai turut mendorong perputaran ekonomi lokal. Skema ini menghidupkan rantai pasok pangan dari tingkat produsen hingga distribusi, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan penerima program, tetapi juga pelaku usaha di daerah.
BGN menilai pendekatan penyediaan makanan secara langsung memastikan bantuan tepat sasaran dan benar-benar dikonsumsi oleh anak-anak yang membutuhkan. Selain itu, model ini memperkuat ekosistem pangan lokal dan membuka peluang kerja baru secara berkelanjutan.
Fokus Gizi Anak dan Penguatan Ekonomi
Program MBG dirancang sebagai langkah strategis untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan akses pangan bergizi yang memadai. Di saat yang sama, program ini menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah melalui penciptaan lapangan kerja dan penguatan UMKM.
Menurut Nanik, desain program yang terintegrasi antara aspek gizi dan pemberdayaan ekonomi membuat MBG tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga ekonomi dalam skala nasional.
Dengan ekspansi dapur SPPG yang terus berlangsung, kontribusi program terhadap penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi lokal diperkirakan akan semakin besar ke depan. (hen)


as a preferred source on Google




