Seoul (beritajatim.id) – Pengurus Pusat Shofia Cahaya Bangsa melakukan langkah ekspansi jaringan internasional dengan menggelar audiensi bersama Rumah Muslimah Indonesia (Rumaisa) Korea Selatan. Pertemuan berlangsung di Masjid Al-Falah Seoul pada Kamis (6/2/2026), menjadi fondasi awal kolaborasi antarorganisasi muslimah lintas negara.
Dari pihak Shofia Cahaya Bangsa, audiensi diwakili Ketua Bidang Kajian dan Pengembangan SDM, Yollanda Vusvita Sari. Sementara Rumaisa Korea dihadiri Ketua Bidang Humas Firstyarinda Indraswari serta Dewan Pembina Usri Ami.
Pertemuan tersebut membahas peluang sinergi program, mulai dari penyelenggaraan webinar tentang kehidupan muslimah di Korea Selatan hingga penjajakan informasi beasiswa dan peluang kerja bagi perempuan muslim Indonesia.
Rumaisa Korea: Pilar Dakwah Muslimah Diaspora
Firstyarinda Indraswari memaparkan bahwa Rumaisa Korea berdiri pada 2014 sebagai respons atas kebutuhan muslimah Warga Negara Indonesia (WNI) di Korea Selatan untuk memiliki ruang silaturahmi dan penguatan identitas keislaman.
Organisasi ini berada di bawah naungan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Seoul, sehingga memiliki legalitas dan struktur organisasi yang jelas. Dalam aktivitasnya, Rumaisa juga bersinergi dengan berbagai organisasi Islam di Korea Selatan, termasuk Korea Muslim Federation (KMF).
Menurut Firstyarinda, kehidupan beragama bagi komunitas diaspora muslim di Korea Selatan berjalan kondusif dengan catatan tetap mematuhi regulasi setempat. Aktivitas ibadah diperbolehkan selama tidak mengganggu ketertiban umum. Untuk kegiatan publik, komunitas diaspora diwajibkan melapor kepada otoritas setempat agar mendapat pengawasan dan perlindungan keamanan.
Ia juga menggambarkan dinamika organisasi diaspora Indonesia yang aktif dan saling berkolaborasi dalam berbagai agenda keagamaan maupun sosial.
Pendampingan Pernikahan Campuran dan Pendidikan Anak Muslim
Dewan Pembina Rumaisa Korea, Usri Ami, menyoroti peran organisasinya dalam mendampingi keluarga pernikahan campuran Indonesia-Korea. Rumaisa menjadi ruang edukasi keislaman bagi muslimah Indonesia yang menikah dengan warga lokal.
Menurut Usri, penerimaan masyarakat Korea terhadap muslimah berhijab relatif baik, terutama di kota besar seperti Seoul. Namun, di sejumlah daerah lain, keberadaan hijab masih kerap menimbulkan rasa ingin tahu dari masyarakat setempat.
Rumaisa juga menjalin kerja sama dengan komunitas muslimah di bawah KMF dalam pembinaan anak-anak perempuan muslim Korea, terutama dari keluarga mualaf. Program ini mencakup pengajaran Alquran serta penguatan nilai-nilai Islam sejak dini.
Di sisi lain, Usri yang juga berprofesi sebagai auditor halal menyebutkan bahwa restoran halal semakin mudah ditemukan, khususnya di kawasan Itaewon yang dikenal sebagai pusat komunitas muslim di Seoul. Ia juga menyinggung dukungan pemerintah Korea terhadap ibu hamil, termasuk bagi warga negara asing, melalui skema kompensasi persalinan.
Peluang Webinar dan Beasiswa Jadi Fokus Kolaborasi
Menanggapi potensi kolaborasi tersebut, Yollanda Vusvita Sari menyatakan bahwa kerja sama dengan Rumaisa Korea akan menjadi langkah awal program internasional Shofia Cahaya Bangsa.
Ke depan, organisasi ini berencana menggelar webinar daring bertema kehidupan muslimah di Korea Selatan. Selain itu, pembahasan terkait akses beasiswa dan peluang kerja di Negeri Ginseng juga menjadi agenda prioritas.
Menurut Yollanda, kolaborasi ini akan dijadikan proyek percontohan sebelum memperluas jaringan dengan organisasi muslimah Indonesia di negara lain seperti Turki, Eropa, dan Malaysia.
Langkah ini dinilai strategis dalam memperkuat jejaring diaspora muslimah global sekaligus membuka akses informasi pendidikan dan karier bagi perempuan muslim Indonesia.
Penguatan Jejaring Muslimah Global
Kolaborasi antara Shofia Cahaya Bangsa dan Rumaisa Korea mencerminkan tren penguatan jejaring organisasi perempuan muslim berbasis diaspora. Sinergi ini tidak hanya berorientasi pada kegiatan keagamaan, tetapi juga pengembangan kapasitas sumber daya manusia, pendidikan, dan pemberdayaan sosial.
Dengan semakin terbukanya akses komunikasi lintas negara melalui platform digital, kerja sama berbasis webinar dan pertukaran informasi beasiswa dinilai menjadi model kolaborasi efektif dan berkelanjutan. (fiq)


as a preferred source on Google




