Surabaya (beritajatim.id) – Pendekatan diplomasi “tekanan maksimum” yang diterapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menuai kritik tajam. Harian The Sydney Morning Herald (SMH) dalam ulasannya pada Selasa (3/3/2026) menyoroti bahwa pelabelan negara-negara sekutu sebagai “pengecut” bukanlah langkah strategis yang menguntungkan, melainkan berpotensi mengisolasi Washington di tengah meningkatnya ketegangan global.
Ketegangan ini bermula dari wawancara Presiden Trump dengan Fox News baru-baru ini, di mana ia secara terbuka meremehkan kontribusi militer negara-negara NATO dan sekutu lainnya dalam konflik masa lalu, seperti di Afghanistan. Trump menuding sekutunya enggan mengambil risiko besar.
“Kita tidak pernah benar-benar membutuhkan mereka. Kita tidak pernah meminta apa pun dari mereka,” ujar Trump dalam kutipan yang dilansir oleh berbagai media internasional. Ia menambahkan dengan nada sinis, “Anda tahu, mereka akan mengatakan bahwa mereka mengirim pasukan… Dan memang mereka mengirimnya, (tapi) mereka diam agak di belakang, menjauh dari garis depan.”
Pernyataan yang menyiratkan bahwa pasukan sekutu “bersembunyi” ini dinilai oleh SMH sebagai narasi yang kontraproduktif saat AS justru sedang membutuhkan dukungan koalisi untuk menghadapi tantangan baru di Iran dan Venezuela.
Komentar tersebut memicu respons berapi-api dari para pemimpin negara mitra. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengecam keras pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap pengorbanan tentara sekutu yang gugur bersama pasukan AS.
“Saya menganggap pernyataan Presiden Trump itu menghina dan sejujurnya sangat mengerikan (insulting and frankly appalling),” tegas Starmer.
Senada dengan Starmer, mantan komandan pasukan khusus GROM Polandia, Jenderal Roman Polko, memberikan balasan menohok. Ia menyebut Trump sebagai sosok yang tidak memiliki otoritas moral untuk berbicara soal keberanian di medan perang. “(Trump adalah) seorang pengecut yang tidak pernah berada di garis depan,” ujarnya seperti dikutip dari laporan media Eropa.
Analisis SMH menyimpulkan bahwa retorika “pengecut” ini memperburuk kepercayaan dalam aliansi Trans-Atlantik. Alih-alih memobilisasi dukungan, strategi komunikasi Trump justru memperkuat sentimen anti-Amerika di Eropa dan Asia Pasifik. Hal ini dikhawatirkan akan mempersulit AS dalam membangun koalisi militer yang solid jika konflik terbuka benar-benar pecah dalam waktu dekat.


as a preferred source on Google




