Surabaya (beritajatim.id) – Bulan Syawal menjadi salah satu momen penting dalam kalender Hijriah yang datang setelah Ramadan. Selain identik dengan perayaan Idul Fitri, banyak masyarakat juga ingin mengetahui hingga kapan bulan Syawal berlangsung pada tahun 2026.
Penentuan akhir bulan Syawal sendiri mengacu pada kalender Hijriah yang digunakan oleh pemerintah maupun organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah.
Secara umum, dalam sistem kalender Hijriah, satu bulan berlangsung selama 29 atau 30 hari, tergantung pada hasil rukyatul hilal (pengamatan bulan) atau metode hisab (perhitungan astronomi).
Pada 2026, awal Syawal ditetapkan bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada akhir Maret. Dengan demikian, bulan Syawal diperkirakan berlangsung hingga akhir April 2026, meski tanggal pastinya bisa berbeda tergantung metode penetapan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama menggunakan metode rukyat dan hisab dalam menentukan awal bulan Hijriah. Sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal.
Perbedaan metode ini terkadang menyebabkan selisih dalam penetapan awal maupun akhir bulan Hijriah, termasuk Syawal. Namun dalam banyak kasus, perbedaannya tidak terlalu signifikan.
Syawal bukan sekadar bulan setelah Ramadan, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang kuat. Umat Muslim dianjurkan melanjutkan ibadah, salah satunya dengan menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Selain itu, tradisi halal bihalal yang berkembang di Indonesia juga menjadi bagian penting dalam mempererat silaturahmi setelah Idul Fitri.
Mengetahui durasi bulan Syawal penting bagi umat Muslim untuk merencanakan ibadah maupun aktivitas sosial. Meski terdapat perbedaan metode penentuan kalender, esensi dari bulan ini tetap sama, yakni melanjutkan nilai-nilai kebaikan setelah Ramadan.
Untuk kepastian tanggal, masyarakat diimbau mengikuti pengumuman resmi dari pemerintah atau organisasi keagamaan yang menjadi rujukan masing-masing. (aga)


as a preferred source on Google




