Surabaya (beritajatim.id) – Pengelolaan Sirkuit Bung Tomo kembali menjadi sorotan. Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Surabaya, Samsurin, menilai pemanfaatan fasilitas tersebut masih belum optimal dan membutuhkan penataan yang lebih terstruktur.
Menurut Samsurin, salah satu langkah penting yang perlu segera diterapkan adalah sistem klasterisasi pengguna. Ia menekankan bahwa penggunaan sirkuit harus dibedakan secara jelas antara atlet berprestasi, atlet binaan, dan masyarakat umum atau penghobi. Pengelompokan ini dinilai penting agar fungsi utama sirkuit sebagai sarana pembinaan olahraga tetap terjaga.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa masyarakat tidak dapat menggunakan sirkuit secara bebas tanpa mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Penggunaan fasilitas olahraga, termasuk sirkuit, harus mengacu pada regulasi yang sama seperti pengelolaan stadion besar di Surabaya, sehingga aspek keselamatan dan kualitas tetap terjamin.
Samsurin juga menyoroti lemahnya pengawasan selama ini yang berdampak pada belum maksimalnya manfaat sirkuit bagi komunitas otomotif. Padahal, dari sisi fasilitas, Sirkuit Bung Tomo dinilai sudah memenuhi standar tinggi dan bahkan menjadi rujukan bagi pengembangan sirkuit di sejumlah daerah di Jawa Timur.
Ia mendorong Pemerintah Kota Surabaya melalui dinas terkait untuk lebih serius mengoptimalkan regulasi, khususnya dalam hal sistem sewa dan tarif yang telah diatur dalam peraturan daerah maupun peraturan wali kota. Pengelolaan yang baik dinilai tidak hanya mendukung pembinaan atlet, tetapi juga berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Di sisi lain, tren positif berupa penurunan balap liar di Surabaya turut diapresiasi. Fenomena ini disebut berkaitan dengan meningkatnya aktivitas latihan bersama komunitas otomotif di sirkuit. Namun, peluang tersebut dinilai harus segera direspons dengan kebijakan yang tepat agar manfaatnya bisa berkelanjutan.
Samsurin juga menekankan pentingnya transparansi dalam sistem penyewaan, termasuk optimalisasi platform layanan seperti Surabaya Single Window. Ia mengingatkan potensi penyalahgunaan jika pengawasan tidak diperketat, terutama terkait ketidaksesuaian antara data pendaftaran dan kondisi di lapangan.
Dengan berbagai catatan tersebut, IMI Surabaya berharap pengelolaan Sirkuit Bung Tomo ke depan dapat berjalan lebih tertib, transparan, dan tepat sasaran. Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung pembinaan atlet sekaligus memaksimalkan potensi ekonomi dari sektor olahraga otomotif, terutama menjelang ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2027. (hdl)


as a preferred source on Google




