Surabaya (beritajatim.com) – Kota Surabaya kembali menghadirkan destinasi kuliner unik yang memadukan cita rasa Nusantara dengan nuansa sejarah.
Restoran 10 Regentstraat dijadwalkan melakukan soft opening pada 1 Mei 2026 di kawasan Kebon Rojo, Krembangan Selatan.
Mengusung konsep heritage dining, 10 Regentstraat berdiri di bangunan bersejarah yang dulunya dikenal sebagai Regentstraat pada masa kolonial. Nama “10” merujuk pada nomor bangunan yang kini dihidupkan kembali sebagai identitas baru yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Bangunan tersebut memiliki nilai historis tinggi. Dulunya, gedung ini merupakan bagian dari Hogere Burgerschool (HBS) Soerabaja yang berdiri sejak 1 November 1875, sekolah elite era Hindia Belanda yang pernah menjadi tempat belajar Presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Setelah itu, bangunan sempat difungsikan sebagai Kantor Pos Kebon Rojo sebelum akhirnya direvitalisasi menjadi ruang publik.
Kini, di tangan pengelola baru, bangunan cagar budaya tersebut bertransformasi menjadi destinasi kuliner yang tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga pengalaman menyelami atmosfer tempo dulu.
Menu yang ditawarkan memadukan hidangan klasik dan Nusantara, seperti bitterballen, klappertaart, aneka olahan ayam dan bebek, hidangan laut, hingga makanan tradisional seperti karedok. Pengunjung juga dapat menikmati minuman klasik seperti limun Cap Badak.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, dijadwalkan hadir pada 29 April 2026 untuk meresmikan soft opening restoran tersebut. Kehadiran pemerintah kota diharapkan dapat mendorong pemanfaatan bangunan bersejarah menjadi ruang publik yang lebih hidup dan dekat dengan masyarakat.
Direktur PT Imperium Buana Sakti, Steffiani Setyadji, menegaskan bahwa konsep yang diusung bukan sekadar restoran biasa.
“Kami ingin 10 Regentstraat menjadi lebih dari sekadar tempat makan. Ini adalah ruang di mana orang bisa menikmati kuliner sekaligus merasakan atmosfer sejarah Surabaya. Bangunan ini punya cerita besar, dan kami berusaha menghidupkannya kembali lewat konsep heritage dining yang hangat, akrab, dan tetap relevan untuk semua kalangan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya berkomitmen menjaga keaslian bangunan dengan tetap menghadirkan kenyamanan modern.
“Kami mempertahankan karakter arsitektur kolonial yang menjadi daya tarik utama gedung ini, lalu memadukannya dengan sentuhan modern agar tetap nyaman. Harapannya, masyarakat bisa menikmati pengalaman unik, yaitu makan enak sambil bernostalgia,” tambahnya.
Dengan harga yang relatif terjangkau, 10 Regentstraat diharapkan dapat menjangkau berbagai kalangan masyarakat. Perpaduan antara nilai sejarah, arsitektur klasik, dan kekayaan kuliner Nusantara menjadikan tempat ini bukan sekadar restoran, melainkan destinasi wisata baru yang memperkaya wajah pariwisata Kota Surabaya.
Kehadirannya pun diproyeksikan menjadi magnet baru bagi warga lokal maupun wisatawan, sekaligus menjadi pengingat bahwa warisan sejarah dapat dihidupkan kembali melalui cara yang relevan dan penuh cita rasa. (ted)


as a preferred source on Google




