Jenewa (beritajatim.id) – Pemerintah Iran menyatakan Selat Hormuz kembali beroperasi normal dan terbuka sepenuhnya bagi kapal-kapal dagang setelah tercapainya kesepakatan antara Teheran dan Washington terkait pemulihan aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Ali Bahreini, pada Selasa (23/6/2026). Menurut Bahreini, aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz saat ini berlangsung tanpa hambatan dan arus pengiriman minyak melalui jalur tersebut telah kembali berjalan dalam beberapa hari terakhir.
Bahreini menegaskan bahwa kapal-kapal dagang dapat melintasi Selat Hormuz secara normal. Pernyataan tersebut menjadi sinyal penting bagi pasar energi global yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi ketidakpastian akibat konflik dan gangguan pelayaran di kawasan Teluk.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk mengalir melalui perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Karena itu, setiap gangguan di wilayah ini berpotensi memengaruhi harga energi, rantai pasok global, hingga stabilitas perdagangan internasional.
Pemulihan aktivitas pelayaran terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan yang dituangkan dalam Islamabad Memorandum of Understanding (MoU). Dokumen tersebut ditandatangani secara elektronik oleh kedua negara dengan mediasi Pakistan dan mulai berlaku pada pertengahan Juni 2026. Salah satu poin utama dalam kesepakatan itu adalah pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran.
Kesepakatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mengakhiri ketegangan militer yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Selain menjamin kebebasan navigasi, kedua negara sepakat melanjutkan perundingan teknis untuk membahas implementasi berbagai poin dalam memorandum dan menjaga stabilitas kawasan.
Sejumlah laporan internasional menunjukkan aktivitas kapal komersial mulai meningkat setelah kesepakatan berlaku. Beberapa operator pelayaran dan perusahaan energi telah kembali mengirim kapal melalui jalur tersebut, meskipun sebagian pelaku industri masih memantau perkembangan keamanan kawasan secara cermat.
Peningkatan lalu lintas kapal ini menjadi indikator penting bagi pemulihan perdagangan energi global. Selama periode ketegangan, banyak kapal tanker dan kapal kargo memilih menunggu di luar kawasan Teluk karena faktor keamanan dan tingginya risiko operasional. Kini, dengan adanya kesepakatan baru, kepercayaan pelaku industri terhadap keamanan pelayaran mulai meningkat.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai proses normalisasi penuh masih membutuhkan waktu. Beberapa perusahaan pelayaran internasional masih menunggu implementasi menyeluruh dari kesepakatan Iran-Amerika Serikat sebelum kembali mengoperasikan armada secara maksimal di kawasan tersebut.
Sebagai tindak lanjut kesepakatan, Iran dan Amerika Serikat telah menggelar negosiasi teknis di Swiss pada 21 Juni lalu dengan dukungan mediasi Pakistan dan Qatar. Pertemuan tersebut membahas mekanisme pelaksanaan memorandum, termasuk aspek keamanan pelayaran dan langkah-langkah deeskalasi di kawasan Timur Tengah.
Kembalinya aktivitas normal di Selat Hormuz dipandang sebagai perkembangan positif bagi stabilitas pasar energi dunia. Selain mendukung kelancaran distribusi minyak dan gas, terbukanya kembali jalur pelayaran ini juga diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap biaya logistik global serta memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perdagangan internasional di kawasan Teluk. (hdl)


as a preferred source on Google




