Surabaya (beritajatim.id) – Tren intimate wedding semakin diminati pasangan muda, khususnya dari kalangan Generasi Z (Gen Z). Konsep pernikahan yang mengutamakan kehangatan bersama keluarga dan sahabat terdekat ini kini menjadi pilihan karena dinilai lebih bermakna dibanding pesta berskala besar.
Perubahan tren tersebut juga mencerminkan bergesernya cara pandang generasi muda terhadap pernikahan. Jika sebelumnya pesta megah dengan ratusan hingga ribuan tamu dianggap sebagai simbol kesuksesan, kini banyak pasangan lebih mengutamakan pengalaman yang personal sekaligus mempertimbangkan kondisi finansial setelah resmi membangun rumah tangga.
Intimate wedding umumnya menghadirkan tamu dalam jumlah terbatas, berkisar antara 50 hingga 150 orang. Dengan konsep tersebut, pasangan memiliki kesempatan lebih banyak untuk menikmati setiap momen bersama orang-orang terdekat tanpa harus disibukkan dengan rangkaian acara yang padat.
Suasana yang lebih hangat juga membuat prosesi akad maupun resepsi terasa lebih emosional. Setiap tamu yang hadir merupakan orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan kedua mempelai sehingga interaksi selama acara berlangsung menjadi lebih akrab.
Konsep ini juga memberi keleluasaan bagi pasangan untuk menyesuaikan tema, dekorasi, hingga lokasi pernikahan sesuai karakter masing-masing.
Selain menghadirkan suasana yang lebih intim, intimate wedding juga menawarkan efisiensi anggaran yang cukup signifikan.
Dengan jumlah tamu yang lebih sedikit, biaya konsumsi, dekorasi, sewa gedung, hingga kebutuhan operasional lainnya dapat ditekan. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk pesta kemudian dapat dimanfaatkan sebagai modal memulai kehidupan baru setelah menikah.
Banyak pasangan memilih mengalokasikan anggaran tersebut untuk uang muka rumah, dana darurat keluarga, investasi, modal usaha, hingga biaya bulan madu.
Bagi Gen Z yang dikenal semakin sadar pentingnya perencanaan keuangan, keputusan tersebut dianggap lebih relevan dengan kebutuhan jangka panjang dibanding menghabiskan sebagian besar anggaran untuk pesta yang hanya berlangsung beberapa jam.
Jumlah tamu yang terbatas membuat pasangan memiliki lebih banyak pilihan lokasi untuk menggelar pernikahan.
Tidak sedikit yang memilih mengadakan acara di restoran, vila, taman, pantai, kafe, rooftop, hingga halaman rumah keluarga. Selain menghadirkan suasana yang lebih santai, lokasi-lokasi tersebut juga memberikan pengalaman berbeda sekaligus menghasilkan dokumentasi yang lebih estetik.
Fleksibilitas ini menjadi salah satu alasan mengapa intimate wedding semakin populer di media sosial, terutama di kalangan pengguna Instagram, TikTok, dan Pinterest.
Berbeda dengan konsep resepsi konvensional, intimate wedding lebih menitikberatkan pada kualitas pengalaman dibanding kemegahan acara.
Pasangan memiliki lebih banyak waktu untuk berbincang dengan tamu, menikmati rangkaian acara tanpa terburu-buru, serta mengabadikan momen bersama keluarga dan sahabat.
Pendekatan ini sejalan dengan karakter Gen Z yang cenderung mengutamakan pengalaman (experience) dibanding simbol status. Nilai emosional sebuah pernikahan dinilai lebih penting daripada ukuran pesta atau banyaknya tamu undangan.
Meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan keuangan, perubahan gaya hidup, serta keinginan menciptakan momen yang lebih autentik diperkirakan akan membuat tren intimate wedding terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Konsep ini tidak hanya menjadi solusi bagi pasangan yang ingin menggelar pernikahan dengan anggaran lebih efisien, tetapi juga menjadi cara untuk merayakan hari istimewa bersama orang-orang yang benar-benar memiliki arti dalam perjalanan hidup mereka.
Bagi banyak pasangan muda, pernikahan kini tidak lagi semata-mata tentang kemewahan pesta, melainkan menjadi langkah awal membangun kehidupan rumah tangga yang lebih matang, terencana, dan berkelanjutan. (aga)


as a preferred source on Google




