Semarang ( beritajatim.id) – Penunjukan aktor Nicholas Saputra sebagai brand ambassador Tolak Angin pada Mei 2026 tidak hanya menjadi langkah pemasaran biasa. Di mata banyak pihak, keputusan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk itu juga mencerminkan pentingnya faktor kredibilitas dalam menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk herbal yang telah lama dikenal masyarakat.
Nicholas dikenal sebagai salah satu aktor dengan citra yang relatif konsisten sepanjang kariernya. Lulusan Arsitektur Universitas Indonesia tersebut jarang terlibat dalam promosi produk secara masif dan dikenal selektif dalam memilih proyek yang dijalani. Reputasi itu yang kemudian membuat kehadirannya sebagai wajah baru Tolak Angin menarik perhatian publik.
Nama Nicholas mulai dikenal luas setelah membintangi film “Ada Apa Dengan Cinta?” pada 2002. Selama lebih dari dua dekade berkarier di industri perfilman Indonesia, ia meraih sejumlah penghargaan bergengsi, termasuk Piala Citra lewat film “Gie” pada 2005 dan “Aruna & Lidahnya” pada 2018.
Karakter Nicholas yang identik dengan sosok intelektual dan berhati-hati dalam mengambil keputusan dinilai selaras dengan citra yang ingin dibangun Tolak Angin. Direktur Marketing Sido Muncul, Maria Reviani, dalam peluncuran kampanye pada 18 Mei 2026 menyebut Nicholas sebagai figur yang memiliki integritas dan konsisten menjaga reputasinya.
“Nicholas ini orangnya sangat hati-hati. Kita tahu sendiri image yang dijaga, lalu selalu menjaga integritas sebagai aktor,” ujar Maria.
Penunjukan tersebut juga terjadi beberapa bulan setelah Tolak Angin menjadi perbincangan di media sosial terkait kandungan eugenol yang berasal dari ekstrak daun cengkeh. Sejumlah unggahan di berbagai platform mengaitkan kandungan tersebut dengan potensi gangguan lambung, terutama bagi penderita GERD. Klaim tersebut memicu perdebatan di ruang digital meski belum sepenuhnya diterima sebagai fakta ilmiah oleh berbagai pihak.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan dan herbal memang semakin bergantung pada kepercayaan publik. Karena itu, pemilihan figur publik untuk mewakili merek sering kali tidak hanya mempertimbangkan popularitas, tetapi juga rekam jejak dan tingkat kepercayaan yang melekat pada sosok tersebut.
Bagi sebagian pengamat komunikasi pemasaran, kehadiran Nicholas dapat dibaca sebagai upaya memperkuat asosiasi positif terhadap merek melalui figur yang telah memiliki kredibilitas kuat di mata masyarakat. Di sisi lain, muncul pula pandangan bahwa citra selektif sang aktor kini menjadi bagian penting dari strategi komunikasi merek.
Terlepas dari berbagai interpretasi yang berkembang, langkah Sido Muncul menunjukkan bahwa kepercayaan tetap menjadi aset utama dalam industri herbal. Dalam konteks tersebut, Nicholas Saputra bukan hanya hadir sebagai wajah kampanye, tetapi juga sebagai simbol nilai yang ingin ditampilkan sebuah merek kepada konsumennya.(can)


as a preferred source on Google




