Tangerang (beritajatim.id) – Akselerasi Puskesmas Indonesia (Apkesmi) meluncurkan program Puskesmas Siap SEDIA (Skrining, Edukasi, Intervensi Aksi Cegah Anemia dan Stunting) sebagai upaya memperkuat layanan kesehatan primer dalam mencegah anemia defisiensi besi (ADB) dan stunting pada ibu serta anak. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan deteksi dini sekaligus memperkuat edukasi dan intervensi di tingkat puskesmas.
Ketua Umum DPP Apkesmi, Kusnadi, SKM, M.Kes., mengatakan puskesmas memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat. Karena itu, penguatan kapasitas layanan primer dinilai menjadi langkah penting dalam menekan angka anemia dan stunting yang masih menjadi tantangan kesehatan nasional.
Dalam konferensi pers di Tangerang, Senin (29/6/2026), Kusnadi menjelaskan bahwa program Puskesmas Siap SEDIA dirancang agar tenaga kesehatan memiliki pendekatan yang lebih sistematis dalam melakukan skrining, memberikan edukasi, hingga menentukan intervensi sesuai kondisi pasien.
Menurutnya, pencegahan anemia dan stunting harus dilakukan sejak dini karena kedua kondisi tersebut dapat memengaruhi pertumbuhan fisik maupun perkembangan kognitif anak. Semakin cepat risiko terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
Program yang mendapat dukungan dari Danone Indonesia tersebut menerapkan tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah skrining menggunakan standar antropometri dan kalkulator zat besi yang membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi risiko anemia maupun gangguan pertumbuhan pada anak.
Tahap berikutnya berupa edukasi kepada orang tua melalui media Flipchart SEDIA yang memuat informasi mengenai gizi seimbang, pentingnya pemenuhan zat besi, serta pola makan sehat bagi ibu dan anak. Setelah itu, tenaga kesehatan akan memberikan intervensi yang disesuaikan dengan hasil pemeriksaan sehingga penanganan menjadi lebih tepat sasaran.
Kusnadi berharap implementasi awal program di sejumlah puskesmas dapat menjadi model penguatan layanan primer yang mampu mempercepat upaya pencegahan anemia defisiensi besi dan stunting secara berkelanjutan.
Sementara itu, Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menilai pencegahan stunting dan anemia memerlukan pendekatan berbasis bukti ilmiah agar setiap intervensi memberikan hasil yang optimal.
Ray menyampaikan bahwa pihaknya mendukung program tersebut, terutama dalam penguatan aspek skrining di fasilitas kesehatan primer. Menurutnya, deteksi dini yang dilakukan secara sistematis akan meningkatkan efektivitas edukasi kepada keluarga sekaligus membantu tenaga kesehatan menentukan langkah intervensi yang sesuai sehingga risiko gangguan gizi dapat ditekan sejak awal.
Peluncuran program ini juga dilatarbelakangi masih tingginya angka stunting di Indonesia. Berdasarkan Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting masih berada pada angka 19,8 persen. Artinya, sekitar satu dari lima balita di Indonesia masih mengalami gangguan pertumbuhan kronis yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.
Selain berdampak pada tinggi badan, stunting berkaitan erat dengan berbagai persoalan gizi, termasuk anemia defisiensi besi yang masih banyak ditemukan pada ibu hamil, ibu menyusui, maupun anak-anak.
Para ahli menjelaskan bahwa anemia defisiensi besi dapat mengganggu perkembangan otak dan fungsi kognitif anak. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kemampuan konsentrasi, daya ingat, serta proses belajar, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas tumbuh kembang hingga produktivitas saat dewasa.
Melalui pendekatan skrining, edukasi, dan intervensi yang terintegrasi, Apkesmi berharap program Puskesmas Siap SEDIA dapat memperkuat peran puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat. Kolaborasi antara organisasi profesi, tenaga kesehatan, pemerintah, dan sektor swasta juga diharapkan mampu mempercepat penurunan angka anemia serta stunting, sekaligus mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas. (hdl)


as a preferred source on Google




