Surabaya (beritajatim.id) – Awal tahun 2026 menjadi momen ironis bagi Chelsea. Klub asal London Barat itu kembali kehilangan pelatih kepala, meski baru saja menutup 2025 dengan status juara Piala Dunia Antarklub. Enzo Maresca, sosok yang sebelumnya dielu-elukan, kini resmi angkat kaki dari Stamford Bridge hanya dalam hitungan pekan.
Nasib Maresca di Chelsea berubah drastis. Dari kemenangan prestisius atas Barcelona hingga perpisahan mendadak, semuanya terjadi dalam rentang waktu sekitar enam minggu. Situasi ini menegaskan bahwa satu trofi tidak selalu cukup untuk menjamin stabilitas di kursi pelatih Chelsea.
Salah satu momen yang paling disorot adalah konferensi pers Maresca usai kemenangan atas Everton. Saat itu, ia secara terbuka mengaku baru melewati “48 jam terburuk” sepanjang karier kepelatihannya di Chelsea. Pernyataan tersebut memicu spekulasi luas soal tekanan internal yang ia hadapi.
Jika dua hari berikutnya terasa lebih buruk, maka hal itu sekaligus memperlihatkan bahwa hierarki klub tampaknya tidak menempatkan gelar Piala Dunia Antarklub 2025 sebagai pencapaian yang krusial.
Kepergian Maresca kembali menegaskan citra Chelsea sebagai klub dengan siklus pergantian manajer yang cepat. Fenomena ini bukan hal baru dan bahkan dianggap sebagai warisan era Roman Abramovich.
Di bawah kepemilikan Clearlake Capital dan Todd Boehly, pola tersebut justru terlihat semakin dipercepat. Pengganti Maresca nantinya akan menjadi manajer ketujuh Chelsea dalam kurun tiga setengah tahun terakhir, atau bahkan kedelapan jika klub menunjuk pelatih interim.
Maresca menjadi korban terbaru dari apa yang kerap disebut sebagai “lingkaran kematian” manajer Chelsea. Sebelumnya, nama-nama besar seperti Frank Lampard, Andre Villas-Boas, Luiz Felipe Scolari, hingga Carlo Ancelotti pernah merasakan hal serupa.
Bahkan Jose Mourinho harus menerima pemecatan pada Desember 2015, hanya beberapa bulan setelah situasi tim memburuk. Fakta bahwa Roberto Di Matteo pelatih yang mempersembahkan Liga Champions 2012 juga dipecat sebelum Natal, semakin memperkuat pola tersebut.
Meski mencatat sejumlah kemenangan penting, terutama atas Barcelona dan Paris Saint-Germain pada Juli 2025, Maresca dinilai belum sepenuhnya meyakinkan. Ia dianggap beruntung mendapat kesempatan melatih Chelsea hanya bermodal satu musim bersama Leicester City.
Spekulasi yang mengaitkannya sebagai calon penerus Pep Guardiola di Manchester City kini terlihat terlalu prematur. Dengan sumber daya Chelsea yang jauh melampaui rival di Conference League, dua trofi yang diraih Maresca dianggap belum cukup istimewa.
Sebagian besar pendukung Chelsea juga dinilai tidak terlalu kehilangan sosok Maresca. Permainan tim kerap dianggap monoton, ditambah keputusan pergantian pemain yang membingungkan.
Dalam hasil imbang 2-2 melawan Bournemouth, bahkan terdengar nyanyian suporter yang menyindir sang pelatih. Situasi ini mencerminkan jarak antara Maresca dan tribun Stamford Bridge.
Sebagai catatan pembelaan, Chelsea memang menghadapi musim yang padat akibat Piala Dunia Antarklub. Maresca juga harus kehilangan Cole Palmer dan Levi Colwill dalam periode panjang.
Namun, ia meninggalkan Chelsea di posisi kelima klasemen, hanya terpaut lima poin dari peringkat ke-14. Di Premier League, The Blues tertinggal 15 poin dari Arsenal dan tak menunjukkan tanda-tanda sebagai penantang gelar.
Sejak pengambilalihan pada 2022, Chelsea telah menghabiskan sekitar 1,6 miliar pound untuk belanja pemain. Namun, masalah klasik seperti ketiadaan kiper dan striker kelas dunia masih belum teratasi.
Beberapa pemain berkembang di era Maresca, seperti Reece James, Marc Cucurella, dan Moises Caicedo. Sebaliknya, rekrutan mahal seperti Liam Delap, Jorrel Hato, Alejandro Garnacho, dan Jamie Gittens belum memenuhi ekspektasi.
Pertanyaan lama kembali muncul: siapa yang paling bertanggung jawab atas kegagalan ini—pemain, pelatih, atau manajemen klub? Model pengelolaan Chelsea kerap disorot, namun setiap pergantian pelatih seolah menempatkan kesalahan sepenuhnya pada manajer.
Cara berakhirnya era Maresca, yang runtuh dalam beberapa pekan terakhir, tak banyak membantu reputasinya. Chelsea kini menatap laga berat ke Etihad Stadium, sementara masa depan Maresca masih menjadi tanda tanya. Yang pasti, semakin sulit menentukan apakah Chelsea adalah klub yang tepat untuk Enzo Maresca, atau justru sebaliknya. (aga)







