Surabaya (beritajatim.id) – Generasi muda saat ini cenderung mudah cemas. Oleh karena itu, penanganan emosi menjadi fokus utama dalam pendidikan. Psikolog senior Drs. Asep Haerul Gani membahas fenomena ini dalam acara Meet & Greet di Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) Surabaya, Jl. Medokan Semampir Indah 99-101, Sabtu (13/7/2024) siang.
“Dari pengamatan saya, dua kata yang paling sering diucapkan oleh anak muda sekarang adalah cemas dan ‘overthinking’ (menghabiskan waktu untuk memikirkan hal secara berlebihan dan berulang-ulang),” ungkap Pengasuh Ponpes Psikoterapi Tasikmalaya itu.
Asep menjelaskan perbedaan antara “takut”, “phobia”, dan “cemas”. Ketakutan memiliki objek nyata yang ditakuti, seperti singa. Solusinya sederhana: hindari objek tersebut. Namun, jika seseorang tetap takut pada boneka singa, itu disebut phobia.
“Kecemasan lebih rumit, karena objeknya tidak jelas. Orang bisa mencemaskan hal-hal yang mungkin tidak terjadi atau bayang-bayang yang diciptakannya sendiri,” tambahnya.
Asep menekankan pentingnya mempelajari kecerdasan emosi yang meliputi mengenali, memfasilitasi, dan mengendalikan emosi. Dengan menangani masalah emosi, diharapkan kita bisa mencapai kesejahteraan yang ditandai dengan kebahagiaan, kepuasan, dan rendahnya stres.
Acara tersebut juga dihadiri oleh pakar pendidikan Dr. Martadi, M.Sn., Wakil Rektor IV Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Menurutnya, pendidikan adalah jembatan menuju masa depan.
“Tugas kita adalah menemukan pendidikan yang tepat agar anak tidak tersesat. Materi di sekolah harus relevan dengan kebutuhan hidup 16 hingga 20 tahun mendatang,” ujar Martadi.
Ia menambahkan, lembaga pendidikan harus menyesuaikan diri dengan karakteristik generasi alpha (lahir antara 2010-2024). Berdasarkan penelitian, generasi ini cenderung mengalami kecemasan tinggi. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu membangun optimisme dan melayani karakteristik multitasking mereka.
Martadi percaya setiap anak memiliki potensi hebat yang harus ditemukan, difasilitasi, dan dikembangkan menjadi kompetensi nyata. Tantangan masa depan semakin sulit dengan meningkatnya populasi dan kemajuan teknologi seperti AI yang menggeser banyak pekerjaan.
“Setiap orang harus melakukan reskilling, meningkatkan keterampilan diri, dan terus belajar sepanjang hayat agar tidak tertinggal,” tutupnya. (hdl)


as a preferred source on Google




