Jakarta (beritajatim.id) – Kementerian Perindustrian melalui Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) terus memperkuat kolaborasi internasional untuk meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui penyelenggaraan 3rd High-Level Indonesian-German Annual Meeting on Quality Infrastructure di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Forum bilateral tersebut menjadi bagian penting dalam penguatan kerja sama Indonesia dan Jerman di bidang Quality Infrastructure atau infrastruktur mutu. Sistem ini dinilai memiliki peran vital dalam mendukung industri nasional agar lebih kompetitif, adaptif terhadap perkembangan regulasi global, dan mampu memperluas akses ekspor, terutama ke kawasan Eropa.
Pertemuan itu dihadiri perwakilan pemerintah Indonesia dan Jerman, lembaga standardisasi, akreditasi, metrologi, asosiasi industri, pelaku usaha, hingga mitra strategis kedua negara. Delegasi Jerman dipimpin oleh Ole Janssen dari Federal Ministry for Economic Affairs and Energy (BMWE), sedangkan pihak Indonesia diwakili Kepala BSKJI Kemenperin, Emmy Suryandari.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai penguatan infrastruktur mutu menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika perdagangan global dan transformasi industri berbasis digital. Menurutnya, kerja sama Indonesia dan Jerman diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri nasional agar lebih siap menghadapi persaingan internasional.
Ia menjelaskan, sistem infrastruktur mutu yang kuat dapat meningkatkan kepercayaan pasar global terhadap produk manufaktur Indonesia. Karena itu, penguatan standardisasi, penilaian kesesuaian, serta transformasi digital dalam sistem industri perlu terus dipercepat agar produk nasional mampu memenuhi standar internasional.
Sementara itu, Emmy Suryandari menegaskan bahwa infrastruktur mutu memiliki peran strategis dalam mendukung perlindungan konsumen, memperluas akses pasar internasional, serta mendorong transformasi industri berkelanjutan. Ia juga menyoroti pentingnya harmonisasi regulasi teknis dan digitalisasi industri dalam menghadapi tantangan perdagangan global yang semakin kompleks.
Salah satu agenda utama dalam forum tersebut adalah penandatanganan Work Plan kerja sama Indonesia–Jerman periode 2026–2027. Kesepakatan itu menjadi bentuk komitmen kedua negara dalam melanjutkan kolaborasi strategis di bidang standardisasi dan penguatan sistem infrastruktur mutu nasional.
Dalam pembahasannya, forum menyoroti tiga isu strategis utama. Sesi pertama membahas harmonisasi sistem Quality Infrastructure dalam kerangka Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I–EU CEPA). Fokus utama pembahasan mencakup peluang peningkatan akses pasar melalui penguatan standar dan sistem penilaian kesesuaian.
Sesi kedua membahas penguatan keselamatan dan kualitas produk melalui standardisasi nasional yang selaras dengan sistem internasional. Dalam sesi ini, peran lembaga penilaian kesesuaian dinilai penting untuk mendukung regulasi sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk industri Indonesia.
Adapun sesi ketiga menitikberatkan pada digitalisasi infrastruktur mutu, termasuk kesiapan Indonesia menghadapi implementasi Digital Product Passport (DPP) Uni Eropa. Diskusi mencakup kebijakan DPP, pengembangan digitalisasi Quality Infrastructure, hingga contoh implementasi sistem tersebut di sektor industri.
Melalui forum ini, Indonesia dan Jerman berharap kerja sama bilateral di bidang infrastruktur mutu dapat semakin kuat dan mampu mendukung pengembangan industri nasional yang modern, terintegrasi secara global, serta memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.
Pada penutupan kegiatan, Emmy Suryandari menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Jerman, BMWE, GIZ, dan seluruh mitra strategis yang selama ini mendukung penguatan sistem Quality Infrastructure di Indonesia. Ia berharap kolaborasi kedua negara dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional serta penguatan sektor industri di masa mendatang. (hdl)


as a preferred source on Google




