Teheran (beritajatim.id) – Iran membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Teheran meminta pembicaraan baru dengan Washington setelah berakhirnya gencatan senjata antara kedua negara. Pernyataan yang saling bertolak belakang tersebut kembali memunculkan ketidakpastian mengenai masa depan hubungan Iran dan Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Melalui akun Truth Social, Donald Trump menyatakan Iran telah meminta agar dialog dengan Amerika Serikat dilanjutkan. Menurutnya, Washington menyetujui pembicaraan tersebut, namun menegaskan bahwa gencatan senjata telah berakhir.
Pernyataan itu langsung dibantah Kementerian Luar Negeri Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa pemerintah Iran tidak pernah mengajukan permintaan untuk kembali bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Meski demikian, ia mengonfirmasi Iran menerima kunjungan mediasi dari Qatar yang bertujuan membahas perkembangan situasi kawasan.
Baghaei juga menuduh Amerika Serikat melanggar nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua negara pada 18 Juni 2026 untuk mengakhiri konflik regional. Menurutnya, serangan militer Amerika ke sejumlah wilayah Iran pada Rabu dan Kamis, pencabutan izin penjualan minyak Iran, serta sanksi baru terhadap Teheran merupakan bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Pemerintah Iran menegaskan tetap berpegang pada prinsip “komitmen dibalas komitmen”, yang berarti setiap pelanggaran oleh Amerika Serikat akan direspons secara setara.
Ketegangan kedua negara meningkat setelah militer Amerika melancarkan serangan menyusul insiden terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal dan drone ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Yordania.
Meski Trump menyatakan gencatan senjata telah berakhir, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) belum memberikan kepastian mengenai kemungkinan dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran. Juru bicara CENTCOM Tim Hawkins hanya menyampaikan bahwa seluruh pasukan Amerika di kawasan tetap berada dalam kondisi siaga dan siap menjalankan perintah apabila diperlukan.
Di pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya siap mempertahankan diri apabila Amerika Serikat kembali melanggar komitmen yang telah disepakati. Sementara Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur Iran akan dibalas secara proporsional, termasuk terhadap pihak yang dianggap mendukung aksi tersebut.
Sementara itu, laporan sejumlah media Amerika sempat menyebut putaran baru perundingan Iran dan Amerika Serikat akan berlangsung pekan depan di Swiss. Namun sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran membantah informasi tersebut dan menegaskan seluruh perkembangan diplomatik hanya akan diumumkan melalui saluran resmi pemerintah Iran.
Perbedaan pernyataan antara Washington dan Teheran menunjukkan proses diplomasi masih berada dalam situasi yang belum pasti. Di tengah meningkatnya aktivitas militer dan saling tuding pelanggaran kesepakatan, peluang tercapainya perdamaian jangka panjang di kawasan masih menghadapi tantangan besar. (hdl)


as a preferred source on Google




