Jakarta (beritajatim.id) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan baru yang memperburuk situasi keamanan kawasan. Eskalasi konflik tersebut turut berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia, yang mengalami penurunan signifikan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan maritim.
Serangan terbaru terjadi setelah Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk sebagai respons atas serangan AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Rangkaian aksi militer tersebut semakin mengikis efektivitas gencatan senjata yang baru berlangsung sekitar tiga pekan.
Media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di berbagai wilayah selatan negara itu, termasuk Bushehr yang menjadi lokasi salah satu fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir Iran. Ledakan juga dilaporkan terjadi di Konarak, Choghadak, dan Bandar Abbas. Sementara itu, seorang pejabat Amerika Serikat menyatakan tidak ada serangan baru yang dilakukan militer AS dalam beberapa jam terakhir.
Pemerintah Iran mengecam keras operasi militer Amerika Serikat yang menyasar pelabuhan, kawasan pesisir, serta infrastruktur maritim selama dua hari terakhir. Dalam forum Sidang ke-137 Dewan Organisasi Maritim Internasional (IMO) di London, perwakilan Iran menilai tindakan tersebut membahayakan keselamatan pelayaran internasional dan mengancam keamanan para pelaut.
Iran juga menilai Amerika Serikat tidak konsisten karena mengusung prinsip kebebasan navigasi, namun di saat yang sama menyerang fasilitas pengendali lalu lintas kapal dan perangkat keselamatan maritim yang berfungsi melindungi aktivitas pelayaran internasional.
Ketua Parlemen Iran yang juga menjadi negosiator utama dalam perundingan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam terhadap setiap bentuk serangan. Pernyataan tersebut memperlihatkan sikap tegas Teheran di tengah meningkatnya tensi hubungan kedua negara.
Situasi keamanan di Selat Hormuz menjadi perhatian dunia setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa intervensi Amerika Serikat dalam pengaturan jalur pelayaran telah menghambat proses normalisasi aktivitas di perairan tersebut. Menurut IRGC, jumlah kapal yang melintas di bawah pengawasan Iran baru pulih sekitar 50 persen dibandingkan kondisi sebelum pecahnya konflik.
Otoritas Iran juga menyatakan izin melintas hanya diberikan kepada kapal yang menggunakan jalur pelayaran sesuai pengaturan pemerintah Iran. Mereka memperingatkan bahwa setiap intervensi lebih lanjut dari Amerika Serikat akan mendapat respons yang lebih keras.
Data dari perusahaan analisis maritim berbasis di Inggris, Lloyd’s List Intelligence, menunjukkan aktivitas kapal dagang yang dapat dilacak di jalur pelayaran yang dikoordinasikan Amerika Serikat di lepas pantai Oman mengalami penurunan tajam. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya distribusi energi global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Meski demikian, harga minyak dunia yang sempat melonjak akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan kembali melemah pada perdagangan Kamis setelah pelaku pasar mencermati perkembangan terbaru di lapangan.
Di tengah meningkatnya eskalasi militer, jalur diplomasi masih tetap berjalan. Seorang pejabat Amerika Serikat, sebagaimana dikutip Reuters, menyebut Washington masih berkomitmen mencari penyelesaian terhadap isu nuklir Iran. Pembicaraan teknis antara kedua pihak dilaporkan tetap berlangsung meski situasi keamanan terus memburuk.
Sementara itu, Israel menyatakan terus memantau perkembangan konflik secara intensif. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, baik melalui kesepakatan internasional maupun tanpa adanya perjanjian.
Panglima Militer Israel Eyal Zamir mengatakan pihaknya telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan perkembangan situasi di Iran maupun Lebanon. Senada dengan itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan militer berada dalam kondisi siaga penuh apabila operasi militer kembali diperlukan.
Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memengaruhi stabilitas geopolitik kawasan Timur Tengah sekaligus membawa dampak terhadap perdagangan internasional, keamanan jalur pelayaran, serta volatilitas pasar energi global. Selama Selat Hormuz masih menjadi titik utama persaingan kedua negara, dunia diperkirakan akan terus memantau perkembangan konflik yang dapat memengaruhi rantai pasok energi dan stabilitas ekonomi internasional. (hdl)


as a preferred source on Google




