Bondowoso (beritajatim.id) – Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Al Ishlah Bondowoso menjadi saksi bisu dari sebuah acara yang tak hanya memperkenalkan literasi, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi keilmuan yang telah lama menjadi roh pendidikan di pesantren, Minggu (3/8/2025).
Acara tersebut bertajuk Ngaji Literasi Gramedia dengan tema Keajaiban Tulisan: Pesantren Sebagai Ibu Literasi. Suasana penuh semangat terasa begitu kuat di setiap sudut gedung, seiring dengan kehadiran penulis sekaligus motivator, Aditya Akbar Hakim, yang menjadi pembicara utama di acara ini.
Dalam sambutannya, Ustaz Misbah, Kabid Pendidikan dan Pengajaran Ponpes Al Ishlah, dengan penuh antusias mengungkapkan kebanggaannya atas peran pesantren dalam melahirkan ribuan alumni yang tersebar di penjuru Nusantara, bahkan dunia.
Ia dengan bangga menyatakan bahwa banyak di antara mereka yang memilih jalur kepenulisan, bahkan menjadi wartawan yang membawa nama pesantren ke ranah publik.
“Ngaji literasi ini adalah wujud nyata kami untuk menghidupkan kembali tradisi ulama cendekiawan Muslim masa silam, yang menjadikan membaca dan menulis sebagai bagian integral dari kehidupan mereka,” ujar Misbah.
“Kami ingin santri-santri Al Ishlah tidak hanya menjadi penuntut ilmu agama, tetapi juga mampu menulis karya-karya hebat yang dapat menginspirasi,” sambungnya dengan semangat yang menggebu-gebu.
Acara seminar ini dibagi menjadi dua sesi: pagi untuk santri putra dan siang untuk santri putri. Kedua sesi tersebut diwarnai dengan semangat luar biasa dari para santri yang sangat antusias mengikuti jalannya diskusi.
Suasana semakin hidup dengan adanya bazar buku yang menawarkan beragam koleksi bacaan, yang menjadi “obat dahaga” bagi para santri yang selama ini terbatas oleh akses literatur.
Aditya Akbar Hakim, penulis buku Rahasia Meraih Nikmat Dunia Akhirat dan Sekretaris 2 Gerakan Pembudayaan Minat Baca Provinsi Jawa Timur, dalam kesempatan itu mengungkapkan, “Saya selalu melihat bahwa minat terhadap buku sangat tinggi di kalangan santri. Tantangannya adalah ketersediaan akses bacaan.”
Tapi di sini, katanya, pihaknya yakin para santri adalah figur-figur literat, yang dengan disiplin dan ketekunan yang diajarkan di pondok, akan mampu menghasilkan karya-karya tulisan yang luar biasa.
Seminar berjalan dengan sangat interaktif dan komunikatif. Respon positif dari para santri begitu menggembirakan, terlebih lagi dengan adanya 20 bingkisan buku yang diberikan kepada mereka yang aktif berdiskusi.
Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan literasi kepada santri, tetapi juga mendekatkan mereka dengan bahan bacaan yang bervariasi, untuk mengatasi kelangkaan buku di pesantren.
Pondok Pesantren Al Ishlah Bondowoso bukan hanya tempat menuntut ilmu agama, tetapi juga menjadi wahana literasi yang mengasah kemampuan intelektual santri untuk menghasilkan karya. Dengan semangat seperti inilah, harapan besar untuk mencetak generasi santri yang literat dan produktif semakin nyata. [yus]


as a preferred source on Google




