Musi Banyuasin (beritajatim.id) – Aktivitas warga di Kelurahan Mangunjaya, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, menunjukkan geliat ekonomi baru yang tumbuh dari sektor budidaya perikanan. Melalui program pemberdayaan masyarakat bertajuk Karo Mamang, warga kini mulai merasakan dampak nyata peningkatan pendapatan berbasis potensi lokal.
Program ini dijalankan oleh Pertamina EP Ramba Field yang berada di bawah naungan Pertamina Hulu Rokan Zona 4 sebagai bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Fokus utamanya adalah pengembangan keramba apung organik yang dikelola oleh masyarakat setempat.
Sejak 2025, sebanyak 25 perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Pelangi aktif mengelola budidaya ikan di keramba apung. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana produksi, tetapi juga ruang kolaborasi yang memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Panen ikan yang dilakukan pada April 2026 menjadi salah satu bukti keberhasilan program tersebut. Warga bersama anggota KWT Pelangi tampak antusias saat memanen ikan hasil budidaya yang telah dirawat selama berbulan-bulan. Selain dijual dalam bentuk segar, hasil panen juga mulai diolah menjadi produk turunan yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Salah satu anggota KWT Pelangi, Reni, mengungkapkan bahwa pendampingan yang diberikan oleh pihak perusahaan sangat membantu dalam meningkatkan keterampilan budidaya. Ia merasakan adanya tambahan penghasilan bagi keluarga dari hasil panen tersebut, meskipun tidak diungkapkan secara langsung sebagai kutipan panjang.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari pemerintah kelurahan. Lurah Mangunjaya, Fitriya, menilai kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan. Ia berharap program serupa dapat terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas.
Selain aspek ekonomi, Karo Mamang juga dirancang sebagai solusi mitigasi risiko bagi warga, terutama saat menghadapi kondisi seperti banjir yang dapat mengganggu sumber penghasilan utama. Program ini sekaligus mendorong praktik budidaya yang ramah lingkungan dengan meminimalkan limbah.
Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa keberhasilan program tidak terlepas dari pendampingan berkelanjutan sejak tahap perencanaan hingga panen. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Kehadiran keramba apung di Mangunjaya kini bukan sekadar sarana budidaya ikan, tetapi telah berkembang menjadi simbol perubahan sosial dan ekonomi. Dari inisiatif lokal berbasis komunitas, program ini membuka peluang baru sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa. (ren)


as a preferred source on Google




