Surabaya (beritajatim.com) – Minimnya fasilitas khusus untuk cabang olahraga modern pentathlon di Jawa Timur tidak membuat pembinaan atlet terhenti.
Ketua Umum Pengurus Provinsi Modern Pentathlon Indonesia (MPI) Jawa Timur, Dwi Kistiono, memilih mengambil langkah konkret dengan membangun arena latihan obstacle bergaya “Ninja Warrior” secara mandiri di kawasan Jalan Raya Bringin Indah, Kelurahan Bringin, Kecamatan Sambikerep, Surabaya.
Arena yang dibangun menggunakan dana pribadi tersebut diproyeksikan menjadi pusat latihan atlet modern pentathlon Jawa Timur dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Meski berada di kawasan pinggiran Kota Surabaya dan belum banyak diketahui masyarakat luas, fasilitas ini mulai menjadi tempat pembinaan atlet-atlet yang dipersiapkan untuk bersaing di tingkat nasional.
Dwi Kistiono mengatakan pembangunan arena tersebut merupakan bagian dari komitmennya untuk meningkatkan kesiapan atlet Jawa Timur menghadapi persaingan yang semakin ketat di ajang olahraga nasional.
“Ini memang saya niatkan untuk persiapan PON 2028, agar nantinya atlet-atlet Pentathlon Jawa Timur sangat siap,” ujar Dwi, Kamis (5/6/2026).
Arena latihan tersebut mulai dibangun sejak 2025 dengan desain yang disesuaikan kebutuhan nomor obstacle modern pentathlon. Nomor ini kini menjadi salah satu disiplin penting dalam olahraga modern pentathlon setelah mengalami sejumlah penyesuaian dalam regulasi internasional.
Fasilitas berukuran sekitar 6 x 20 meter itu didominasi konstruksi besi dan dilengkapi berbagai rintangan yang dirancang untuk mengasah kekuatan fisik, kelincahan, koordinasi gerak, hingga daya tahan atlet. Karakteristik rintangan yang menyerupai kompetisi “Ninja Warrior” membuat atlet dituntut mampu menyelesaikan berbagai tantangan dalam waktu singkat dengan tingkat kesulitan yang tinggi.
Saat ini, arena tersebut telah memiliki empat obstacle yang digunakan dalam sesi latihan rutin. Namun pembangunan belum sepenuhnya selesai. MPI Jawa Timur berencana menambah dua rintangan lagi agar simulasi latihan semakin mendekati kondisi pertandingan resmi.
“Ini masih terpasang empat obstacle, namun nanti akan dipasang dua rintangan lagi di bagian tengah, karena di pertandingan nasional terkadang berbeda-beda tiap tantangannya,” jelas Dwi.
Menurutnya, variasi obstacle menjadi faktor penting dalam pembinaan atlet modern pentathlon. Sebab, setiap kompetisi memiliki desain rintangan yang dapat berubah sehingga atlet harus terbiasa menghadapi berbagai model tantangan.
Tidak hanya menjadi penggagas, Dwi juga terlibat langsung dalam proses pembangunan arena tersebut. Mulai dari perancangan konsep, penentuan bentuk obstacle hingga pengembangan fasilitas dilakukan dengan pendekatan yang disesuaikan kebutuhan atlet.
“Ini saya buat sendiri, merancang sendiri. Cuma ada beberapa bagian yang mendapatkan masukan dari tim saya dan juga para atlet MPI Jatim,” katanya.
Dari hasil pemantauan di lokasi, beberapa bagian arena memang masih dalam tahap penyempurnaan. Namun fasilitas yang sudah tersedia dinilai cukup memadai untuk mendukung program latihan dasar dan peningkatan kemampuan atlet yang masuk dalam proyeksi PON 2028.
Keberadaan arena mandiri ini juga menjadi simbol upaya membangun kemandirian pembinaan olahraga di tengah keterbatasan fasilitas khusus yang tersedia. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan latihan yang lebih fokus, berkelanjutan, dan sesuai kebutuhan atlet modern pentathlon Jawa Timur.
Selain sebagai sarana latihan rutin, arena tersebut nantinya dipersiapkan sebagai pusat latihan daerah atau puslatda mandiri bagi atlet-atlet MPI Jawa Timur yang masuk dalam program pembinaan menuju PON 2028.
Dwi menegaskan pembangunan fasilitas akan terus dilakukan secara bertahap seiring perkembangan kebutuhan atlet dan target prestasi yang ingin dicapai. Baginya, yang terpenting saat ini adalah memastikan para atlet memiliki sarana latihan yang memadai untuk meningkatkan kemampuan sejak dini.
“Pelan-pelan, yang penting untuk kebutuhan latihan atlet terpenuhi. Ini memang direncanakan untuk puslatda mandiri PON 2028 mendatang,” tandasnya.
Dengan hadirnya arena obstacle mandiri tersebut, MPI Jawa Timur berharap proses pembinaan atlet dapat berjalan lebih optimal. Upaya ini sekaligus menjadi langkah awal dalam menyiapkan generasi atlet modern pentathlon yang mampu bersaing dan mengharumkan nama Jawa Timur pada PON 2028 mendatang. (ted)







