Teheran (beritajatim.id) – Meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat mulai berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah. Selain memengaruhi jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, situasi tersebut juga mendorong Amerika Serikat meminta Israel menahan eskalasi operasi militernya di Lebanon selatan.
Data perusahaan intelijen pelayaran global Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintasi kawasan Selat Hormuz terus menurun selama dua hari berturut-turut. Pada 9 Juli 2026, hanya 22 kapal yang melintas, turun dibandingkan 30 kapal sehari sebelumnya.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia. Penurunan aktivitas pelayaran terjadi setelah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk serangan terhadap sejumlah kapal di sekitar perairan Oman.
Data Kpler juga menunjukkan operator pelayaran kini lebih banyak memilih jalur utara yang berada di bawah pengawasan Iran dibandingkan jalur selatan dekat Oman yang selama ini mendapat pengawalan militer Amerika Serikat. Pada 9 Juli hanya satu kapal yang tercatat menggunakan jalur perairan Oman.
Di sisi lain, media penyiaran publik Israel, Kan TV News, melaporkan pemerintah Israel telah menginstruksikan militernya untuk menghindari operasi-operasi yang berpotensi memicu eskalasi di Lebanon selatan. Kebijakan tersebut disebut sebagai respons atas permintaan pemerintah Amerika Serikat yang tengah berupaya mencegah meluasnya konflik regional.
Menurut laporan tersebut, instruksi itu akan tetap berlaku hingga ada perkembangan baru terkait hubungan Iran-Amerika Serikat maupun negosiasi damai antara Israel dan Lebanon. Bahkan militer Israel disebut bersiap menarik pasukannya dari dua wilayah di zona keamanan Lebanon selatan mulai pekan depan sebagai bagian dari implementasi kesepakatan yang dicapai kedua negara di Washington pada akhir Juni lalu.
Sementara itu, berbagai negara di kawasan terus meningkatkan upaya diplomasi. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif melakukan pembicaraan dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk membahas langkah-langkah meredakan ketegangan. Pakistan menyatakan siap terus bekerja sama dengan Qatar dan mediator regional lainnya guna menjaga peluang terciptanya perdamaian.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa penghormatan terhadap komitmen internasional menjadi syarat utama terciptanya kesepakatan yang berkelanjutan. Ia juga kembali menuding Amerika Serikat dan Israel tidak menjalankan komitmen yang telah disepakati.
Di tengah situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan melakukan kunjungan diplomatik ke Oman. Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas hubungan bilateral, perkembangan keamanan kawasan, termasuk situasi di Selat Hormuz dan kerja sama keamanan maritim.
Rangkaian perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga mulai memengaruhi stabilitas jalur perdagangan global, dinamika politik kawasan, serta upaya diplomasi yang terus dilakukan sejumlah negara untuk mencegah konflik meluas. (hdl)


as a preferred source on Google




