Milano (beritajatim.id) – Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026 resmi melewati garis tengah yang krusial pada Sabtu (14/2/2026). Dari total 57 medali emas yang diperebutkan di cabang ski dan snowboard, sebanyak 28 keping telah menemukan pemiliknya. Kini, atensi dunia tertuju pada 29 medali tersisa yang menandai dimulainya “babak kedua” yang diprediksi akan jauh lebih sengit dan emosional.
Federasi Ski Internasional (FIS) melaporkan bahwa intensitas kompetisi justru baru akan mencapai puncaknya mulai hari ini. Para atlet yang gagal di pekan pertama akan berjuang mati-matian, sementara para juara bertahan berusaha mengukuhkan dominasi mereka di sisa kompetisi.
Sorotan Hari Ke-8: Kecepatan dan Ketahanan
Hari ini, Sabtu (14/2/2026), menjadi panggung pembuktian di empat disiplin berbeda. Di Bormio, lintasan Stelvio yang legendaris akan menguji nyali para atlet Alpine Skiing dalam nomor Giant Slalom Putra. Kecepatan tinggi dan teknik tikungan tajam di lintasan es ini dipastikan akan menyajikan tontonan yang memacu adrenalin.
Sementara itu, di Tesero, ketahanan fisik dan strategi tim akan diuji dalam nomor Cross-Country Skiing Estafet Wanita 4×7.5km. Sorotan utama tertuju pada bintang Swedia, Frida Karlsson, yang berambisi menambah koleksi emas ketiganya di ajang ini. Dominasi tim Skandinavia akan mendapat tantangan serius dari negara-negara Eropa Tengah yang mulai menunjukkan taringnya.
Sejarah Baru di Livigno
Olimpiade kali ini juga mencatat sejarah baru di Livigno dengan debut nomor Women’s Dual Moguls. Untuk pertama kalinya, disiplin ini dipertandingkan, memberikan peluang bagi nama-nama baru untuk mencatatkan diri dalam buku sejarah Olimpiade sebagai peraih emas perdana.
Di tempat lain, langit malam Predazzo akan dihiasi aksi para “manusia terbang” dalam nomor Ski Jumping Large Hill Putra. Ryoyu Kobayashi (Jepang) dan Philipp Raimund (Jerman) diprediksi akan bersaing ketat untuk mendarat paling jauh dan mulus demi podium tertinggi.
Dengan 29 medali yang masih “menganggur”, paruh kedua Milano Cortina 2026 bukan sekadar tentang siapa yang menang, tetapi tentang siapa yang mampu bertahan di tengah tekanan mental dan fisik yang kian memuncak.


as a preferred source on Google




